aceh...
11:59 PMnga' perlu ada terompet untuk malam ini...
malam ini nga' perlu ada tiupan terompet,
nga' perlu ada ledakan petasan...
nga' perlu ada percikan kembang api...
nga' perlu ada teriakan dari mulut kalian...
nga' perlu bernyanyi, nga' perlu menari...
(mencaci? ...apalagi! *bombom, grandong ..shut Up!!* )
saudara kita di ujung barat endonesa sedang berduka
heningkan saja cipta untuk itu...
untuk emphaty, simpathy, dan cinta yang memang masih ada ini
sedikit sajalah doa kalo' kamu memang nga' bisa memberi yang banyak
karena uang saku kamu menipis?
karena beasiswa yang tidak juga turun?
ato' karena catatan bon di warung semakin panjang?
(sepanjang contekanmu saat ujian besok...)
semoga lusa lebih baek dari besok...
dan semoga hari ini jadi lebih baek dari hari yang dulu...
malam ini nga perlu ada tiupan terompet...
karena kita semua menunggu aceh meniupnya terlebih dahulu...
baru kita menyusul...
kita berada di belakangnya...
my peace, my love, and my emphaty...
...seng ngoprek web
salju keemasan
4:55 AMaku hidup didalam lembah antah berantah yang tak terkira dalamnya.
kalian tanpa menyadarinya telah menjadi akar gantung yang menyulitkan tiap langkah yang kubuat.
ibarat hutan mugenjou darou yang hampir tak tersentuh, tak ada yang akan menyadari apa yang telah terjadi padaku kecuali diriku sendiri.
di musim hujan semuanya lembab dan menjadikan seluruh tubuhku diselubungi lumut yang kian hari kian menebal.
tak berubah dengan kemarau karena lebatnya daun yang selimuti duniaku dari sinar matahari.
takkan pernah tiba musim gugur yang membebaskan pengikat-pengikat jiwaku dengan meranggasnya helai-demi helai daun kalian.
apalagi salju keemasan yang mampu membuatku bercahaya walaupun dalam kelam.semuanya harus kubongkar demi mencapai kesana.
semua dengan keringatku sendiri.aku hanya berharap aku tidak mati lebih dulu sebelum terbebaskan.
karena asap rokok ini membutakanku dari uluran sayap si capung betina.
Chup!
Hukum Mati !!
4:32 AM
by: Harry Roesli
SEORANG satpam baru saja jadi satpam, kebetulan orangnya disiplin dan taat perintah. Si satpam ini bekerja di sebuah toko swalayan dan diperintahkan oleh atasannya untuk menjaga pintu masuk ke toko swalayan. Perintah khusus dari atasannya ialah seluruh pengunjung harus menitipkan tasnya pada dia (si satpam) sebelum masuk ke toko swalayan, tanpa kecuali!!
Ketika seorang pengunjung laki-laki-tanpa membawa tas-ingin masuk ke toko swalayan tadi, kontan si satpam berteriak, "Bapak harus menitipkan tas dulu, baru boleh masuk ke dalam toko!"
Pengunjung tadi berdalih, "Lho, tetapi saya tidak membawa tas, jadi apa yang harus saya titipkan?!"
"Tidak peduli, pokoknya perintah atasan harus titipkan tas, baru masuk!"
"Tetapi, saya tidak bawa tas!"
Si satpam berpikir sejenak, lalu, "Kalau begitu Bapak pulang dulu ke rumah, lalu bawa tas, lalu ke sini lagi, lalu titipkan tas Bapak, baru saya izinkan Bapak masuk toko!"
CERITA di atas hampir mirip dengan cerita bapak polisi Banyumas yang katanya salah menafsirkan perintah. Lha kok bisa ya, seorang melati tiga salah menafsirkan perintah? Saya curiga bukannya sang melati tiga yang salah, tetapi jangan-jangan memang perintahnya yang salah. Atau mungkin perintah tadi benar, si melati tiga juga benar, yang salah ya saya ini, rakyat yang memang bodoh!
Bayangkan begitu bodohnya saya ini, sampai-sampai cukup dengan uang seratus ribu rupiah saja saya jual suara saya. Padahal kalau diingat, harga kambing saja dua juta rupiah, iya kan?
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya merasa kasihan kepada seorang kakak dan adiknya yang sekarang sakit (sembari menghindari hukum) dan dirawat di Rumah Sakit Polri, gara- gara kebanyakan "makan" gula!
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya percaya bahwa Margareth Thatcherm *mantan PM Inggris* itu kebanyakan minum air dari Buyat sehingga dia banyak mengandung merkuri dan bijih logam makanya dijuluki Wanita Besi!
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya tidak lagi mempertanyakan kapan kasus Eddy Tanzil di-SP3- kan? Toh, Eddy Tanzilnya juga tidak ketemu-ketemu! Susah ya mencarinya? Lho, intel-intel yang banyak itu ke mana ya?
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya kaget dengan ketegasan pemerintah yang mengeksekusi mati seorang bandar narkoba. Terlepas dari pro dan kontra hukuman mati, tetapi naluri kebodohan saya mengatakan, kayaknya memang perlu tegas seperti itu. Kenapa? Karena narkoba sudah merusak mental dan moral generasi muda. Nah, kalau yang merusak mental dan moral generasi tua, apa? Ya korupsi dong! Jadi, koruptor kapan di-"tegas"-kan eksekusinya? Seperti di China dan Korea koruptor dihukum mati, di sini kapan?
MEMANG kita selalu membanding-bandingkan negara kita dengan negara lain. Dan selalu kita merasa negara kita ini lebih jelek dari negara lain!
Misalnya, di China koruptor dihukum mati, di Indonesia koruptor itu hukumnya sudah "mati"! (Tuh, kita selalu memosisikan negara kita di posisi yang payah).
Singapura itu bersihnya lebih bersih dari kulitnya Shinta Bella!
Jakarta? Wah, Jakarta itu kotor banget seperti kulitnya orang yang berpenyakit kulit akibat minum air di Buyat. (Nah kan, betul kan, selalu kita menganggap negara lain lebih bagus dari negara kita).
Di Eropa, orang menganggur disubsidi seribu euro! Di sini? Boro-boro yg menganggur, yang bekerja saja gajinya tidak sebesar itu! (Lagi-lagi kita selalu memojokkan kondisi di Indonesia, iya kan?).
Pemimpin di luar negeri kalau punya kesalahan pasti mundur dari jabatannya! Di sini? Mundur juga, tetapi yang mundur akhlaknya! (Tuh, kita selalu menganggap pemimpin kita itu lebih jelek kalau dibandingkan dengan pemimpin di negeri orang).
Polisi di Inggris benar-benar berwibawa dan tidak bisa disogok! Di sini? Polisi di sini juga tidak bisa disogok! Ah yang benar? Benar, tetapi polisi tidur dan polisi patung, iya kan? (Kita memang keterlaluan, selalu menjelek-jelekkan aparat, kenapa ya?).
Dan banyak lagi perbandingan-perbandingan lain yang membuat sepertinya hidup di Indonesia itu tidak ada enak-enaknya dan tidak ada
untung-untungnya!
Padahal, harga CD, VCD, dan DVD di sini sepersepuluh dari harga di luar negeri! Untung kan itu?
Bahkan, untuk mendapatkan ijazah pun mudah sekali di sini, tidak seperti di luar negeri! Enak benar kan?
SIM? Wah tak perlu repot seperti mendapatkan rijbewijs di Belanda. Enak!
KTP? Sepele, jangan dibandingkan dengan ID Card di Malaysia, apalagi greencard di Amerika! Gampang dan menguntungkan.
Jadi politikus? Wah mudah, tidak perlu punya uang seperti di Amerika, cukup jago berjanji dan pandai berbohong! Murah kan? Untungkan?
Jadi pegawai negeri? Cukup masuk batalion 702. (Maksudnya masuk pukul 07.00 terus 0 alias tidak ada di kantor dan masuk lagi pukul 02.00 siang untuk absen!).
Jadi pengusaha? Ah, dekati saja penguasa! Beres! Enak!
Jadi kolumnis Kompas? Eh, saya yang bodoh saja bisa! Mudah kan?
Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
Bukankah catatan tadi di atas adalah keuntungan bagi kita kalau hidup di Indonesia. Negara ini tidak benar, tetapi bagi orang "tidak benar" seperti saya, saya sudah benar hidup di negara yang tidak benar ini. Coba saya hidup di negara benar, pasti saya jadi tidak benar dan mungkin sudah dihukum mati! Untung kan saya?
Untung? Untung? Untung? Gundulmu sing untung! *...gueguegueu ...i like this word! :D *
*...postingan ini untuk mengenang om harry roesli ...selamat jalan om! sampaikan salam kami buat malaikat penghuni surga...
SEORANG satpam baru saja jadi satpam, kebetulan orangnya disiplin dan taat perintah. Si satpam ini bekerja di sebuah toko swalayan dan diperintahkan oleh atasannya untuk menjaga pintu masuk ke toko swalayan. Perintah khusus dari atasannya ialah seluruh pengunjung harus menitipkan tasnya pada dia (si satpam) sebelum masuk ke toko swalayan, tanpa kecuali!!
Ketika seorang pengunjung laki-laki-tanpa membawa tas-ingin masuk ke toko swalayan tadi, kontan si satpam berteriak, "Bapak harus menitipkan tas dulu, baru boleh masuk ke dalam toko!"
Pengunjung tadi berdalih, "Lho, tetapi saya tidak membawa tas, jadi apa yang harus saya titipkan?!"
"Tidak peduli, pokoknya perintah atasan harus titipkan tas, baru masuk!"
"Tetapi, saya tidak bawa tas!"
Si satpam berpikir sejenak, lalu, "Kalau begitu Bapak pulang dulu ke rumah, lalu bawa tas, lalu ke sini lagi, lalu titipkan tas Bapak, baru saya izinkan Bapak masuk toko!"
CERITA di atas hampir mirip dengan cerita bapak polisi Banyumas yang katanya salah menafsirkan perintah. Lha kok bisa ya, seorang melati tiga salah menafsirkan perintah? Saya curiga bukannya sang melati tiga yang salah, tetapi jangan-jangan memang perintahnya yang salah. Atau mungkin perintah tadi benar, si melati tiga juga benar, yang salah ya saya ini, rakyat yang memang bodoh!
Bayangkan begitu bodohnya saya ini, sampai-sampai cukup dengan uang seratus ribu rupiah saja saya jual suara saya. Padahal kalau diingat, harga kambing saja dua juta rupiah, iya kan?
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya merasa kasihan kepada seorang kakak dan adiknya yang sekarang sakit (sembari menghindari hukum) dan dirawat di Rumah Sakit Polri, gara- gara kebanyakan "makan" gula!
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya percaya bahwa Margareth Thatcherm *mantan PM Inggris* itu kebanyakan minum air dari Buyat sehingga dia banyak mengandung merkuri dan bijih logam makanya dijuluki Wanita Besi!
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya tidak lagi mempertanyakan kapan kasus Eddy Tanzil di-SP3- kan? Toh, Eddy Tanzilnya juga tidak ketemu-ketemu! Susah ya mencarinya? Lho, intel-intel yang banyak itu ke mana ya?
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya kaget dengan ketegasan pemerintah yang mengeksekusi mati seorang bandar narkoba. Terlepas dari pro dan kontra hukuman mati, tetapi naluri kebodohan saya mengatakan, kayaknya memang perlu tegas seperti itu. Kenapa? Karena narkoba sudah merusak mental dan moral generasi muda. Nah, kalau yang merusak mental dan moral generasi tua, apa? Ya korupsi dong! Jadi, koruptor kapan di-"tegas"-kan eksekusinya? Seperti di China dan Korea koruptor dihukum mati, di sini kapan?
MEMANG kita selalu membanding-bandingkan negara kita dengan negara lain. Dan selalu kita merasa negara kita ini lebih jelek dari negara lain!
Misalnya, di China koruptor dihukum mati, di Indonesia koruptor itu hukumnya sudah "mati"! (Tuh, kita selalu memosisikan negara kita di posisi yang payah).
Singapura itu bersihnya lebih bersih dari kulitnya Shinta Bella!
Jakarta? Wah, Jakarta itu kotor banget seperti kulitnya orang yang berpenyakit kulit akibat minum air di Buyat. (Nah kan, betul kan, selalu kita menganggap negara lain lebih bagus dari negara kita).
Di Eropa, orang menganggur disubsidi seribu euro! Di sini? Boro-boro yg menganggur, yang bekerja saja gajinya tidak sebesar itu! (Lagi-lagi kita selalu memojokkan kondisi di Indonesia, iya kan?).
Pemimpin di luar negeri kalau punya kesalahan pasti mundur dari jabatannya! Di sini? Mundur juga, tetapi yang mundur akhlaknya! (Tuh, kita selalu menganggap pemimpin kita itu lebih jelek kalau dibandingkan dengan pemimpin di negeri orang).
Polisi di Inggris benar-benar berwibawa dan tidak bisa disogok! Di sini? Polisi di sini juga tidak bisa disogok! Ah yang benar? Benar, tetapi polisi tidur dan polisi patung, iya kan? (Kita memang keterlaluan, selalu menjelek-jelekkan aparat, kenapa ya?).
Dan banyak lagi perbandingan-perbandingan lain yang membuat sepertinya hidup di Indonesia itu tidak ada enak-enaknya dan tidak ada
untung-untungnya!
Padahal, harga CD, VCD, dan DVD di sini sepersepuluh dari harga di luar negeri! Untung kan itu?
Bahkan, untuk mendapatkan ijazah pun mudah sekali di sini, tidak seperti di luar negeri! Enak benar kan?
SIM? Wah tak perlu repot seperti mendapatkan rijbewijs di Belanda. Enak!
KTP? Sepele, jangan dibandingkan dengan ID Card di Malaysia, apalagi greencard di Amerika! Gampang dan menguntungkan.
Jadi politikus? Wah mudah, tidak perlu punya uang seperti di Amerika, cukup jago berjanji dan pandai berbohong! Murah kan? Untungkan?
Jadi pegawai negeri? Cukup masuk batalion 702. (Maksudnya masuk pukul 07.00 terus 0 alias tidak ada di kantor dan masuk lagi pukul 02.00 siang untuk absen!).
Jadi pengusaha? Ah, dekati saja penguasa! Beres! Enak!
Jadi kolumnis Kompas? Eh, saya yang bodoh saja bisa! Mudah kan?
Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
Bukankah catatan tadi di atas adalah keuntungan bagi kita kalau hidup di Indonesia. Negara ini tidak benar, tetapi bagi orang "tidak benar" seperti saya, saya sudah benar hidup di negara yang tidak benar ini. Coba saya hidup di negara benar, pasti saya jadi tidak benar dan mungkin sudah dihukum mati! Untung kan saya?
Untung? Untung? Untung? Gundulmu sing untung! *...gueguegueu ...i like this word! :D *
*...postingan ini untuk mengenang om harry roesli ...selamat jalan om! sampaikan salam kami buat malaikat penghuni surga...
penjara pikiran...
2:51 PM
Seekor belalang telah lama terkurung di dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain, namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran dia menghampiri belalang lain itu dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?"
Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Di manakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan."
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan kebiasaan bisa membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam-dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dengan seutas tali yang terikat pada sebilah pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada "sesuatu" yang mengikat kakinya, padahal "sesuatu" itu bisa jadi hanya seutas tali kecil...
Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa Anda bisa "melompat lebih tinggi dan lebih jauh" kalau Anda mau menyingkirkan "penjara" itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap di luar batas kemampuan dan pemikiran Anda?
Sebagai manusia kita berkemampuan untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin Anda capai. Sakit memang, lelah memang, tapi jika Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan Anda akan lebih baik kalau Anda hidup dengan cara hidup pilihan Anda sendiri, bukan dengan cara yang dipilihkan orang lain untuk Anda.
Dikutip dari suaramerdeka.com | inspirated from yanichan
...kata ...kata ..kata ...kata
9:33 AM
Puisi adalah pembicaraan ke dalam hati, yang mengimplikasikan pengakuan orang kedua sebagai person, dengan segala kemungkinannya
Puisi tidak mengintimidasi ataupun memanipulasi, bahkan mendikte sekalipun
Puisi adalah ungkapan manusia atas nama dirinya sendiri
tidak bersembunyi di balik prasangka dan pemaksaan
Arti kata adalah kata itu sendiri
kata tidak berhak berada di bawah kata lainnya, kata itu bebas, merdeka!
Merdeka untuk mengartikan dirinya sendiri
Bebas untuk menjadi dirinya sendiri
Manusia telah memperkosa kata menjadi bentuk yang disuka
Menyebarkan prasangka pada kata, merendahkan keindahannya, melepaskan tanggung jawab setelah kata terlontar
Kata telah kehilangan makna hakikinya, dipelintir, diputar balikkan, di analogikan dengan kata lain yang dianggap sama
Tapi pada kenyataannya tidak sama sekali!
Maka berkata-katalah kalian.....
dan temukan keindahan didalamnya
daB!
09 33 am dec 09 2004
Puisi tidak mengintimidasi ataupun memanipulasi, bahkan mendikte sekalipun
Puisi adalah ungkapan manusia atas nama dirinya sendiri
tidak bersembunyi di balik prasangka dan pemaksaan
Arti kata adalah kata itu sendiri
kata tidak berhak berada di bawah kata lainnya, kata itu bebas, merdeka!
Merdeka untuk mengartikan dirinya sendiri
Bebas untuk menjadi dirinya sendiri
Manusia telah memperkosa kata menjadi bentuk yang disuka
Menyebarkan prasangka pada kata, merendahkan keindahannya, melepaskan tanggung jawab setelah kata terlontar
Kata telah kehilangan makna hakikinya, dipelintir, diputar balikkan, di analogikan dengan kata lain yang dianggap sama
Tapi pada kenyataannya tidak sama sekali!
Maka berkata-katalah kalian.....
dan temukan keindahan didalamnya
daB!
09 33 am dec 09 2004
laboratorium ide...
10:43 AM
...Lihat tempat ini !!
banyak ide ide bagus yang mungkin bisa kita dapatkan di tempat seperti ini, dengan segelas kopi, gorengan dan asap putih pekat itu keluar deras dari bacotan moncong kita yang berliur dan muncrat pateng telecek ke arah lawan bicara 'p, pembicaraan tentang apa yang kita suka, tentang apa yang kita tidak suka, dan badai otak terhebat juga terjadi di tempat seperti ini ...dari sini akoe bertanya? "siapa seh diantara kalian yang tidak kenal dan belom pernah ke warung bu lek??, ato' nongkrong di kantin sekret ??" :) tidak pernah ada sedikitpun sistem yang rumit di sini kecuali habis minum kopi kita semua harus dan wajib mbayar! :p ...bukan ilmuwan namanya kalo saat praktikum di laboratorium ato' mata kuliah dengan dosen yang membosankan itu dan kalian tidak segera pergi ke tempat ini *guegeueguge :D *
...banyak sekali pembicaraan yang kita buat, bermula dari sini! mulai dari gosip sampah yang tidak bermutu sampai pembicaraan tanpa jeda juga banyak terjadi di tempat ini, banyak yang bisa kita rekam disini, mengamati langkah anggun dan senyum manis itu dari balik jendela, dan berharap kepengecutan ini tak terdeteksi, banyak ide ide busuk yang cantik keluar di sini, yang membuat kita semua tertawa terbahak bersama, mungkin juga sedikit cerita cerita (mungkin tentang c!nt4?-red :p) yang tidak pernah dan tidak perlu diselesaikan... :)
kita memang banyak membicarakan tentang perbedaan dan juga persamaan di tempat ini, tapi bukan tentang siapa yang terhebat masing masing dari kita, bukan tentang piala sang pleboi pemenang festival memikat hati minggu lalu, bukan juga tentang siapa pemilik hutang hutang terbaik dengan daftar bon terpanjang di catatan hutang warung, apalagi tentang siapakah yang bisa menebar pesona sebanyak mungkin ke segala arah di kampus yang (agak) hijau dan banyak anak wedhOosz (kambing/grandong/bombom-red) nya ini :D
sekali lagi akoe katakan ...bukan! ...semua bukan tentang pengakoean itu, bukan tentang itu ...tetapi tentang apa yang seharusnya kita suka, tentang apa yang seharusnya kita tidak suka, membuat kesepakatan2 yang tidak perlu ditulis, dan semaksimal mungkin untuk meminimalisir semua gesekan diantara kita ...semuanya memang beda tipis, sangat beda tipis...
"...mungkin semua cuma beda tipis 2 sentimeter!" kata Gus Nov pelan...
"...ah, sudahlah her..." ujar bombom sambil menghisap rokok dalam dalam...
"i love you all !!" katakoe cepat sambil meninggalkan tempat ini, tidak lupa akoe lepaskan satu acungan manis jari tengah ini buat kalian tinggi tinggi ke udara......
akoe mencintai kalian semua........................... sungguh
Kesenangan dan Kesedihan
1:00 PM
your lovely Room, 20.45
Kesenangan dan Kesedihan
Kesenangan adalah kesedihan yang tersembunyi
Dan dalam diri yang sama dari mana tawamu Bangkit
adalah diri yang seringkali kaupenuhi dengan airmata
Bagaimana tidak ?
Semakin dalam kesedihan menggali lubang dalam
wujudmu, semakin Banyak kesenangan yang
akan dapat kau tampung
Bukankah gelas yang menyimpan anggurmu
adalah gelas yang diBakar Bersama temBikar?
Dan tidakkah seruling yang melamBungkan
Jiwamu adalah Bambu yang dikerat dengan pisau?
Ketika engkau gembira, lihatlah di Kedalaman
Hatimu dan engkau aKan melihat BaHwa
seBenarnya engkau sedang meRatapi sesuatu
yang pernaH menjadi KeBaHagianmu
Di antaramu ada yang BerKata, “Kesenangan leBiH
Besar dari kesediHan, “dan yang lain Berkata,
“Bukan, KesediHanlah yang leBiH BesaR”
Tapi kukatakan Kepadamu, Keduanya tak terpisaHkan...
Bersama mereka datang, dan ketika salaH satu
duduk Bercengkerama Bersamamu di Beranda,
maka yang lain sedang BerBaring
menunggumu di tempat tidur.
SesungguHnyalaH engkau Bergerak seperti skala yang
berayun antara kesediHan dan kesenanganmu
Hanya jika engkau kosong, maka engkau dapat
berada pada keadaan tetap dan seimBang
Ketika sang penjaga Harta mengangkatmu untuk
mengukur emas dan peraknya, maka ia
memerlukan Kesenangan untuk kesediHanmu dan
menjadikannya Bergerak naik dan turun
TaKen From : KaHLiL fuckin GiBRan
C#n&@, KeindaHan, dan kesunyian
Kesenangan dan Kesedihan
Kesenangan adalah kesedihan yang tersembunyi
Dan dalam diri yang sama dari mana tawamu Bangkit
adalah diri yang seringkali kaupenuhi dengan airmata
Bagaimana tidak ?
Semakin dalam kesedihan menggali lubang dalam
wujudmu, semakin Banyak kesenangan yang
akan dapat kau tampung
Bukankah gelas yang menyimpan anggurmu
adalah gelas yang diBakar Bersama temBikar?
Dan tidakkah seruling yang melamBungkan
Jiwamu adalah Bambu yang dikerat dengan pisau?
Ketika engkau gembira, lihatlah di Kedalaman
Hatimu dan engkau aKan melihat BaHwa
seBenarnya engkau sedang meRatapi sesuatu
yang pernaH menjadi KeBaHagianmu
Di antaramu ada yang BerKata, “Kesenangan leBiH
Besar dari kesediHan, “dan yang lain Berkata,
“Bukan, KesediHanlah yang leBiH BesaR”
Tapi kukatakan Kepadamu, Keduanya tak terpisaHkan...
Bersama mereka datang, dan ketika salaH satu
duduk Bercengkerama Bersamamu di Beranda,
maka yang lain sedang BerBaring
menunggumu di tempat tidur.
SesungguHnyalaH engkau Bergerak seperti skala yang
berayun antara kesediHan dan kesenanganmu
Hanya jika engkau kosong, maka engkau dapat
berada pada keadaan tetap dan seimBang
Ketika sang penjaga Harta mengangkatmu untuk
mengukur emas dan peraknya, maka ia
memerlukan Kesenangan untuk kesediHanmu dan
menjadikannya Bergerak naik dan turun
TaKen From : KaHLiL fuckin GiBRan
C#n&@, KeindaHan, dan kesunyian
Rahasia Bunga
1:00 PM
Jangan biarkan aku layu...!, serumu
(Aku ingin abadi)
Bukankah kau adalah bunga, sahutku
Warnamu menari hanya waktu terang hari
Riuh kau bernyanyi Cuma dalam gemerlap musim semi
Dan wngimu itu Cuma separuh mimpi ?!
Jangan biarkan aku layu...! Jeritmu
(Aku ingin abadi)
Bukankah kau adalah bunga, jawabku
Lihat !, kaki-kakimu itu akar, bersembunyi !
Adalah tanganmu, guguran daun-daun senantiasa melambai Pada sunyi
Dan tangkai-tangkaimu begitu lelah,
Ingin segera istirahat dipangkuan tanah
Jangan biarkan aku layu...!, ratapmu
(Aku ingin abadi)
Bukankah kau adalah bunga, bisikku
Bukankah kau lebih dikenang saat kelopak-kelopakmu Merunduk layu
Bukankah keindahan akan termaafkan jika telah berlalu
Tapi jangan biarkan aku layu...!, Aku tak mau layu...!
(aku ingin abadi)
Tapi kau adalah bunga, kau itu bunga...!
Bunga...!
( Gus nov, Desember 2002 )
(Aku ingin abadi)
Bukankah kau adalah bunga, sahutku
Warnamu menari hanya waktu terang hari
Riuh kau bernyanyi Cuma dalam gemerlap musim semi
Dan wngimu itu Cuma separuh mimpi ?!
Jangan biarkan aku layu...! Jeritmu
(Aku ingin abadi)
Bukankah kau adalah bunga, jawabku
Lihat !, kaki-kakimu itu akar, bersembunyi !
Adalah tanganmu, guguran daun-daun senantiasa melambai Pada sunyi
Dan tangkai-tangkaimu begitu lelah,
Ingin segera istirahat dipangkuan tanah
Jangan biarkan aku layu...!, ratapmu
(Aku ingin abadi)
Bukankah kau adalah bunga, bisikku
Bukankah kau lebih dikenang saat kelopak-kelopakmu Merunduk layu
Bukankah keindahan akan termaafkan jika telah berlalu
Tapi jangan biarkan aku layu...!, Aku tak mau layu...!
(aku ingin abadi)
Tapi kau adalah bunga, kau itu bunga...!
Bunga...!
( Gus nov, Desember 2002 )
pohon anu
1:00 PM
Temanku sering bercerita kepada orang-orang
Tentang sebuah Pohon Anu dirumahnya
Orang orang banyak percaya, dan aku coba bertanya
Seperti apa pohonnya , dan aku mendengarkannya
Lalu aku pun berteriak “ Bohong ! ” ,
telunjukku ke mukanya tepat!
Temanku bercerita bahwa pohon itu tak berbunga,
tak berdaun, tak berbatang, dan tak berakar
Maka temanku itu marah , tapi Aku tahu ia tak membenciku,
ia hanya ingin aku percaya saja,
sebab Pohon Anu yang tak berdaun, tak berbatang,
dan tak tak berbunga itu adalah
pohon yang tak ada
Ya , pohon yang tak pernah ada…!
Desember 2002
< GusNov >
* ...dasar agnostig gendeng! *
Tentang sebuah Pohon Anu dirumahnya
Orang orang banyak percaya, dan aku coba bertanya
Seperti apa pohonnya , dan aku mendengarkannya
Lalu aku pun berteriak “ Bohong ! ” ,
telunjukku ke mukanya tepat!
Temanku bercerita bahwa pohon itu tak berbunga,
tak berdaun, tak berbatang, dan tak berakar
Maka temanku itu marah , tapi Aku tahu ia tak membenciku,
ia hanya ingin aku percaya saja,
sebab Pohon Anu yang tak berdaun, tak berbatang,
dan tak tak berbunga itu adalah
pohon yang tak ada
Ya , pohon yang tak pernah ada…!
Desember 2002
< GusNov >
* ...dasar agnostig gendeng! *
Nenek, Guntur, dan Tuhan
1:00 PM
Setiap kali guntur menggelegar di halaman depan,
Ia terpekik. Segera masuk kamar berlindung di balik selimut
“Tuhan marah”...!, makanya kau tak boleh nakal” tutur nenek
O’ alangkah menakutkan Tuhan itu, Pikirnya
Ia sebenarnya suka bermain hujan
Butiran-butiran yang jatuh begitu menakjubkan
Seperti lampu-lampu kecil yang ditebarkan dari langit
Begitu menakjubkan
Tapi nenek sepertinya tak suka
dan, Semua orang dirumah mirip nenek
Tak boleh bermain seperti ini
Tak boleh bermain seperti itu
Kadang ia ingin mengguntur marah, seperti Tuhan
(agar semua orang tak berani melarang-larangnya)
Tapi, ah kasihan Tuhan...
Semua orang pasti takut
Dan menjauh…
Tuhan pasti tak punya teman, Pikirnya
Diam-diam ia berharap agar Tuhan tak seperti nenek
(yang suka melarangnya main hujan)
Sebab ia percaya, ia bukan anak nakal...
( Gus Nov, Jember/2000 )
Ia terpekik. Segera masuk kamar berlindung di balik selimut
“Tuhan marah”...!, makanya kau tak boleh nakal” tutur nenek
O’ alangkah menakutkan Tuhan itu, Pikirnya
Ia sebenarnya suka bermain hujan
Butiran-butiran yang jatuh begitu menakjubkan
Seperti lampu-lampu kecil yang ditebarkan dari langit
Begitu menakjubkan
Tapi nenek sepertinya tak suka
dan, Semua orang dirumah mirip nenek
Tak boleh bermain seperti ini
Tak boleh bermain seperti itu
Kadang ia ingin mengguntur marah, seperti Tuhan
(agar semua orang tak berani melarang-larangnya)
Tapi, ah kasihan Tuhan...
Semua orang pasti takut
Dan menjauh…
Tuhan pasti tak punya teman, Pikirnya
Diam-diam ia berharap agar Tuhan tak seperti nenek
(yang suka melarangnya main hujan)
Sebab ia percaya, ia bukan anak nakal...
( Gus Nov, Jember/2000 )
Sitti Nur bahaya
1:00 PM
Masih juga ada tiga cintamu Sitti
atau sebenarnya kau tak pernah
kenali cintamu itu...
caramu bicara, gayamu tersenyum
lenggok jalanmu, tatapanmu yang
membuat laki-laki rindu itu...
masih ada ya Sitti...
atau bahkan sekarang lebih hebat...
Sitti...Sitti, adakah semuamu itu
cuma dendam Sitti ?
dendam pada laki-laki ?
Kuingatkan padamu Sitti,
tak semua yang mencari bisa ketemu
dan tak semua keinginan bisa
puaskan ambisimu...
makanya Sitti jangan letakkan
jiwamu di tepi jurang
(itu sombong Sitti)
...aku akan selalu bicara
padamoe dari tepian ini Sitti
sebab aku...
atau sebenarnya kau tak pernah
kenali cintamu itu...
caramu bicara, gayamu tersenyum
lenggok jalanmu, tatapanmu yang
membuat laki-laki rindu itu...
masih ada ya Sitti...
atau bahkan sekarang lebih hebat...
Sitti...Sitti, adakah semuamu itu
cuma dendam Sitti ?
dendam pada laki-laki ?
Kuingatkan padamu Sitti,
tak semua yang mencari bisa ketemu
dan tak semua keinginan bisa
puaskan ambisimu...
makanya Sitti jangan letakkan
jiwamu di tepi jurang
(itu sombong Sitti)
...aku akan selalu bicara
padamoe dari tepian ini Sitti
sebab aku...
Dunia Kertas
1:00 PM
Seratus musim sudah. Kau kumpulkan buku-buku disitu
Di kamar dingin, jamur, debu
Kau sering berteriak membaca kata per kata
Aku tahu, lembaran-lembaran itu selalu ada
Jarum jam terus bergerak, angka-angka merubah kebenaran jadi bayangan
Buku-buku usang masih saja kau simpan
“ini buat masa depan” katamu suatu malam
nafasmu semakin kelam, masa depan dongengan tak pernah datang
Tapi buku-buku itu masih berjajar disitu
Menemani setiap tidurmu
Memberi bentuk mimpi dan ketakutanmu
Selalu, mengajakmu merindu. Menguburmu !
“akan kubuat kapal-kapalan saja” jawabku tegas!
ketika kau ingin aku membaca semuanya
pahit manis tawaranmu itu cuma dunia kertas
...Lelucon yang gila !
(GUS NOV, OCTOBER 2002)
Di kamar dingin, jamur, debu
Kau sering berteriak membaca kata per kata
Aku tahu, lembaran-lembaran itu selalu ada
Jarum jam terus bergerak, angka-angka merubah kebenaran jadi bayangan
Buku-buku usang masih saja kau simpan
“ini buat masa depan” katamu suatu malam
nafasmu semakin kelam, masa depan dongengan tak pernah datang
Tapi buku-buku itu masih berjajar disitu
Menemani setiap tidurmu
Memberi bentuk mimpi dan ketakutanmu
Selalu, mengajakmu merindu. Menguburmu !
“akan kubuat kapal-kapalan saja” jawabku tegas!
ketika kau ingin aku membaca semuanya
pahit manis tawaranmu itu cuma dunia kertas
...Lelucon yang gila !
(GUS NOV, OCTOBER 2002)
sudahlah...
1:00 PMSudahlah...
Biar saja semuanya berlalu
Bukankah melati yang kalian petik
kemarin sudah layu
Sudahlah...
Biarkan saja kenangan itu tumbuh
lalu melayu
ubah saja dendam itu menjadi
kasih sayang dan pemaafan
sudahlah...
biar saja mawar itu tumbuh dan mekar
seperti apa adanya
tak ada gunanya cemburu pada
embun yang menempel dengan angkuh
pada kelopaknya...
( ahjab )
* ...mbut! ...koen nang endhi wae ndesz!?! *
dugaan - dugaan
1:00 PMDi hutan itu ada bunga yang tak tumbuh karena embun
Daun-daun tak terbakar matahari
Mimpi yang tak pernah berulang, namun setia menari dan berkumpul di rerimbunan tanpa cahaya.
Di hutan itu asal mula segala kebuasan kota
Naga raksasa penjaga batu hitam kata-kata
Harimau betina mengaumi segala tanda-tanda
Kemudian garuda tak henti-hentinya membakar batang-batang cemara
Di hutan itu butiran hujan segera lenyap dalam rahasia
Pemburu-pemburu perkasa akan lupa jalan pulang
Anginpun terjebak diantara mahoni ,biji yang jatuh dan berputar-putar
Musim tak membesarkan apapun, mata air melompat dari lubang tanpa dasar
Di hutan itu sunyi mencipta cakrawala yang risau, selalu risau
Angka-angka adalah kesedihan, harapan mengambang
Lalu doa , senantiasa jadi kabut penghalang mata
Dan kayu-kayu duka tak ada pemiliknya
Aku tinggal di hutan itu
Hutan yang tak tumbuh karena embun
Hutan yang tak terbakar matahari
Tak dibesarkan musim.
( Gus nov, Jan 2003 )
Nol
1:00 PMAku hanya berusaha
untuk tidak mengenal kalian
aku hanya berusaha untuk tidak
pernah bertemu dengan kalian
aku hanya berusaha untuk
tetap " Nol "
aku hanya berusaha untuk
menjadi kosong
aku hanya berusaha untuk
menjadi tanpa warna
aku hanya berusaha untuk menjadi
selayak angin, tak pernah tahu
dan tak ingin tahu
aku hanya ingin memberi
rasa pada kalian
tanpa aku harus ada
( ahjab )
tentang alijah...
1:00 PM
(Sebuah Prosa)
Pagi-pagi, waktu embun terakhir menguap ke langit,
aku mengerti, bahwa diriku telah lenyap
hilang bahkan dari siapapun, juga darimu.
Tak ada yang tersisa memang, ketika kita tenggelam dalam peristiwa peristiwa...
Seperti ketika malam-malam kau menangis di kamar adakah yang tertinggal dari air mata...
Tidak Alijah, kecuali kenangan tentang kesedihan,
aku percaya bahwa hari-hari ini dan hari selanjutnya kau akan berbahagia...
lalu semuanya akan berganti, demikian seterusnya....
ada yang berubah Alijah, dan akan terus berubah...
Tapi ingatlah, bahwa ada yang selalu kembali pada lingkaran jiwa sesuatu yang selalu berulang
maka kau teruslah menulis puisi, biarpun sepatah kata...
Aku akan selalu kembali, datang menemani setiapkali kau tulis puisi...
Aku telah datang dan tumbuh dihatimu, Aku juga akan kembali lagi ketika gelap mulai turun
Embun akan kembali turun, Alijah ,malam akan segera datang...
Selayak hantu...
( GusNov, november 2000 ...no rain )
Pagi-pagi, waktu embun terakhir menguap ke langit,
aku mengerti, bahwa diriku telah lenyap
hilang bahkan dari siapapun, juga darimu.
Tak ada yang tersisa memang, ketika kita tenggelam dalam peristiwa peristiwa...
Seperti ketika malam-malam kau menangis di kamar adakah yang tertinggal dari air mata...
Tidak Alijah, kecuali kenangan tentang kesedihan,
aku percaya bahwa hari-hari ini dan hari selanjutnya kau akan berbahagia...
lalu semuanya akan berganti, demikian seterusnya....
ada yang berubah Alijah, dan akan terus berubah...
Tapi ingatlah, bahwa ada yang selalu kembali pada lingkaran jiwa sesuatu yang selalu berulang
maka kau teruslah menulis puisi, biarpun sepatah kata...
Aku akan selalu kembali, datang menemani setiapkali kau tulis puisi...
Aku telah datang dan tumbuh dihatimu, Aku juga akan kembali lagi ketika gelap mulai turun
Embun akan kembali turun, Alijah ,malam akan segera datang...
Selayak hantu...
( GusNov, november 2000 ...no rain )
tentang senja...
1:00 PM
(sebuah prosa)
Adakah mahluk-mahluk bersayap itu sedang berkumpul di tepi langit senja ?
Ia selalu merasa semuanya berkumpul ketika keemasan senja mulai merayap ke halaman Ia sering membayangkan semua orang berjalan menunduk ke arah barat waktu sore hari.
Kadang ia juga bertanya-tanya, apakah rusa dan harimau di hutan merasa damai ketika sinar kemuning itu bagai selimut yang melindungi hutan ....Hutan kehidupan ?!
Kemudian ia paham kenapa ia begitu mencintai senja, matahari jingga dan angin yang damai
Terkenang ketika suatu sore yang pekat menunggu seseorang di stasiun, menatapi setiap kereta yang lewat satu persatu. Tapi yang berjanji menemuinya di sana belum juga tiba dan tak pernah datang juga, bahkan ketika ia menunggunya setiap senja.
Tiba-tiba ia merasa senja begitu panjang, sangat panjang, sampai a merasakan dengan jelas tiap cahaya yang masuk ke ruang mata, tiap dingin mencucuk sekujur tubuhnya dan segala bayangan yang menghujam begitu dalam di ruang dadanya, setiap hal yang segera menyeret-nyeret benaknya... jauh!
Semoga senja hari ini tidak sama dengan senja-senja berikutnya, dan tidak sama dengan senja-senja besoknya lagi, tidak sama dengan senja yang kemarin,
agar kita terlindungi dari penantian yang menghendaki seluruh rindu.
( GusNov, 2000 never ending )
Adakah mahluk-mahluk bersayap itu sedang berkumpul di tepi langit senja ?
Ia selalu merasa semuanya berkumpul ketika keemasan senja mulai merayap ke halaman Ia sering membayangkan semua orang berjalan menunduk ke arah barat waktu sore hari.
Kadang ia juga bertanya-tanya, apakah rusa dan harimau di hutan merasa damai ketika sinar kemuning itu bagai selimut yang melindungi hutan ....Hutan kehidupan ?!
Kemudian ia paham kenapa ia begitu mencintai senja, matahari jingga dan angin yang damai
Terkenang ketika suatu sore yang pekat menunggu seseorang di stasiun, menatapi setiap kereta yang lewat satu persatu. Tapi yang berjanji menemuinya di sana belum juga tiba dan tak pernah datang juga, bahkan ketika ia menunggunya setiap senja.
Tiba-tiba ia merasa senja begitu panjang, sangat panjang, sampai a merasakan dengan jelas tiap cahaya yang masuk ke ruang mata, tiap dingin mencucuk sekujur tubuhnya dan segala bayangan yang menghujam begitu dalam di ruang dadanya, setiap hal yang segera menyeret-nyeret benaknya... jauh!
Semoga senja hari ini tidak sama dengan senja-senja berikutnya, dan tidak sama dengan senja-senja besoknya lagi, tidak sama dengan senja yang kemarin,
agar kita terlindungi dari penantian yang menghendaki seluruh rindu.
( GusNov, 2000 never ending )
...
1:00 PMGerimis dengan malu-malu
Turun pada senja bulan Juli
Kembali terbayang dalam benaknya
Kenangan Mei kelabu
Tentang runtuhnya pengharapan
Tentang sketsa wajah
Yang membangkitkan keresahan dan keraguan
Tentang penantian terakhir yang telah berakhir
Senja bulan Juli dan gerimis yang malu-malu
Membuat dadanya semakin penuh
Ia coba mengubah dendam itu
menjadi kasih sayang dan pemaafan
dan ia mampu
untuk saat ini... setidaknya...
Juli’ 02 | ahjab
...
1:29 PMMaka koe ucapkan
bela sungkawa
untuk hari kelahiran moe !
tak perlu ada lilin
tak perlu kecupan kasih di kening !
Biar saja semua berlalu
dalam diam
hanya diam
...bersama sedikit dendam pun ...Boleh !
(ahjab)
12/8’02
28/7’78
...
1:00 PM
Lalu kenapa musti merindu
...bila yang kita cintai adalah debu!
Melompat sajalah... ke cerita baru
Seperti yang berlari
Roda berputar cepat melindas tapak
Membenamkan jejak tanpa makna
Seperti pelarian kita...
Pilih kuda yang paling liar... Pacu laju!
pilih perempuan yang paling cantik... tinggalkan kalo’ merayu!
Pilih soal yang paling sulit... menyonteklah punya temanmu!
jangan tambatkan pada ruang dan waktu
...sebal semua adalah suasana yang akan tinggal cerita!
Adios...!!!!
...karena kamu tidak akan dapat mengenalku lagi setelah ini
kecuali dari coretan coretan yang aku berikan padamu kemarin
(gus Nov)
* seharusnya saat ujian pagi itu kita bersulang ya bro' :p *
...bila yang kita cintai adalah debu!
Melompat sajalah... ke cerita baru
Seperti yang berlari
Roda berputar cepat melindas tapak
Membenamkan jejak tanpa makna
Seperti pelarian kita...
Pilih kuda yang paling liar... Pacu laju!
pilih perempuan yang paling cantik... tinggalkan kalo’ merayu!
Pilih soal yang paling sulit... menyonteklah punya temanmu!
jangan tambatkan pada ruang dan waktu
...sebal semua adalah suasana yang akan tinggal cerita!
Adios...!!!!
...karena kamu tidak akan dapat mengenalku lagi setelah ini
kecuali dari coretan coretan yang aku berikan padamu kemarin
(gus Nov)
* seharusnya saat ujian pagi itu kita bersulang ya bro' :p *
...
1:00 PM
Kelahiran adalah
Sebuah kedukaan semestinya,
Karena jiwa jiwa suci itu
Harus disekat dalam fisik
Yang menuntut “ penindasan ” dan “ ketertindasan ”
Dan sayang adalah
Penindasan dan ketertindasan
Dalam bentuk yang lembut
Biarkan waktu yang membingkai
Semuanya, menjadi serpihan serpihan kenangan
Dan biarkan kematian
Yang mengabadikan segalanya
Sebagai sebuah keagungan
.....................................................................................
dan akoe akan mengenang mu
pada pucuk pucuk rindu...
karena...
hidup hanya mimpi dalam semusim...
"...inilah jiwa jiwa baik itu yang berada di tempat yang salah..."
( ahjab )
* malam masih panjang
dan aku masih harus terjaga!
Sebuah kedukaan semestinya,
Karena jiwa jiwa suci itu
Harus disekat dalam fisik
Yang menuntut “ penindasan ” dan “ ketertindasan ”
Dan sayang adalah
Penindasan dan ketertindasan
Dalam bentuk yang lembut
Biarkan waktu yang membingkai
Semuanya, menjadi serpihan serpihan kenangan
Dan biarkan kematian
Yang mengabadikan segalanya
Sebagai sebuah keagungan
.....................................................................................
dan akoe akan mengenang mu
pada pucuk pucuk rindu...
karena...
hidup hanya mimpi dalam semusim...
"...inilah jiwa jiwa baik itu yang berada di tempat yang salah..."
( ahjab )
* malam masih panjang
dan aku masih harus terjaga!
RSS Feed (xml)