aceh...
11:59 PMnga' perlu ada terompet untuk malam ini...
malam ini nga' perlu ada tiupan terompet,
nga' perlu ada ledakan petasan...
nga' perlu ada percikan kembang api...
nga' perlu ada teriakan dari mulut kalian...
nga' perlu bernyanyi, nga' perlu menari...
(mencaci? ...apalagi! *bombom, grandong ..shut Up!!* )
saudara kita di ujung barat endonesa sedang berduka
heningkan saja cipta untuk itu...
untuk emphaty, simpathy, dan cinta yang memang masih ada ini
sedikit sajalah doa kalo' kamu memang nga' bisa memberi yang banyak
karena uang saku kamu menipis?
karena beasiswa yang tidak juga turun?
ato' karena catatan bon di warung semakin panjang?
(sepanjang contekanmu saat ujian besok...)
semoga lusa lebih baek dari besok...
dan semoga hari ini jadi lebih baek dari hari yang dulu...
malam ini nga perlu ada tiupan terompet...
karena kita semua menunggu aceh meniupnya terlebih dahulu...
baru kita menyusul...
kita berada di belakangnya...
my peace, my love, and my emphaty...
...seng ngoprek web
salju keemasan
4:55 AMaku hidup didalam lembah antah berantah yang tak terkira dalamnya.
kalian tanpa menyadarinya telah menjadi akar gantung yang menyulitkan tiap langkah yang kubuat.
ibarat hutan mugenjou darou yang hampir tak tersentuh, tak ada yang akan menyadari apa yang telah terjadi padaku kecuali diriku sendiri.
di musim hujan semuanya lembab dan menjadikan seluruh tubuhku diselubungi lumut yang kian hari kian menebal.
tak berubah dengan kemarau karena lebatnya daun yang selimuti duniaku dari sinar matahari.
takkan pernah tiba musim gugur yang membebaskan pengikat-pengikat jiwaku dengan meranggasnya helai-demi helai daun kalian.
apalagi salju keemasan yang mampu membuatku bercahaya walaupun dalam kelam.semuanya harus kubongkar demi mencapai kesana.
semua dengan keringatku sendiri.aku hanya berharap aku tidak mati lebih dulu sebelum terbebaskan.
karena asap rokok ini membutakanku dari uluran sayap si capung betina.
Chup!
Hukum Mati !!
4:32 AM
by: Harry Roesli
SEORANG satpam baru saja jadi satpam, kebetulan orangnya disiplin dan taat perintah. Si satpam ini bekerja di sebuah toko swalayan dan diperintahkan oleh atasannya untuk menjaga pintu masuk ke toko swalayan. Perintah khusus dari atasannya ialah seluruh pengunjung harus menitipkan tasnya pada dia (si satpam) sebelum masuk ke toko swalayan, tanpa kecuali!!
Ketika seorang pengunjung laki-laki-tanpa membawa tas-ingin masuk ke toko swalayan tadi, kontan si satpam berteriak, "Bapak harus menitipkan tas dulu, baru boleh masuk ke dalam toko!"
Pengunjung tadi berdalih, "Lho, tetapi saya tidak membawa tas, jadi apa yang harus saya titipkan?!"
"Tidak peduli, pokoknya perintah atasan harus titipkan tas, baru masuk!"
"Tetapi, saya tidak bawa tas!"
Si satpam berpikir sejenak, lalu, "Kalau begitu Bapak pulang dulu ke rumah, lalu bawa tas, lalu ke sini lagi, lalu titipkan tas Bapak, baru saya izinkan Bapak masuk toko!"
CERITA di atas hampir mirip dengan cerita bapak polisi Banyumas yang katanya salah menafsirkan perintah. Lha kok bisa ya, seorang melati tiga salah menafsirkan perintah? Saya curiga bukannya sang melati tiga yang salah, tetapi jangan-jangan memang perintahnya yang salah. Atau mungkin perintah tadi benar, si melati tiga juga benar, yang salah ya saya ini, rakyat yang memang bodoh!
Bayangkan begitu bodohnya saya ini, sampai-sampai cukup dengan uang seratus ribu rupiah saja saya jual suara saya. Padahal kalau diingat, harga kambing saja dua juta rupiah, iya kan?
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya merasa kasihan kepada seorang kakak dan adiknya yang sekarang sakit (sembari menghindari hukum) dan dirawat di Rumah Sakit Polri, gara- gara kebanyakan "makan" gula!
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya percaya bahwa Margareth Thatcherm *mantan PM Inggris* itu kebanyakan minum air dari Buyat sehingga dia banyak mengandung merkuri dan bijih logam makanya dijuluki Wanita Besi!
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya tidak lagi mempertanyakan kapan kasus Eddy Tanzil di-SP3- kan? Toh, Eddy Tanzilnya juga tidak ketemu-ketemu! Susah ya mencarinya? Lho, intel-intel yang banyak itu ke mana ya?
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya kaget dengan ketegasan pemerintah yang mengeksekusi mati seorang bandar narkoba. Terlepas dari pro dan kontra hukuman mati, tetapi naluri kebodohan saya mengatakan, kayaknya memang perlu tegas seperti itu. Kenapa? Karena narkoba sudah merusak mental dan moral generasi muda. Nah, kalau yang merusak mental dan moral generasi tua, apa? Ya korupsi dong! Jadi, koruptor kapan di-"tegas"-kan eksekusinya? Seperti di China dan Korea koruptor dihukum mati, di sini kapan?
MEMANG kita selalu membanding-bandingkan negara kita dengan negara lain. Dan selalu kita merasa negara kita ini lebih jelek dari negara lain!
Misalnya, di China koruptor dihukum mati, di Indonesia koruptor itu hukumnya sudah "mati"! (Tuh, kita selalu memosisikan negara kita di posisi yang payah).
Singapura itu bersihnya lebih bersih dari kulitnya Shinta Bella!
Jakarta? Wah, Jakarta itu kotor banget seperti kulitnya orang yang berpenyakit kulit akibat minum air di Buyat. (Nah kan, betul kan, selalu kita menganggap negara lain lebih bagus dari negara kita).
Di Eropa, orang menganggur disubsidi seribu euro! Di sini? Boro-boro yg menganggur, yang bekerja saja gajinya tidak sebesar itu! (Lagi-lagi kita selalu memojokkan kondisi di Indonesia, iya kan?).
Pemimpin di luar negeri kalau punya kesalahan pasti mundur dari jabatannya! Di sini? Mundur juga, tetapi yang mundur akhlaknya! (Tuh, kita selalu menganggap pemimpin kita itu lebih jelek kalau dibandingkan dengan pemimpin di negeri orang).
Polisi di Inggris benar-benar berwibawa dan tidak bisa disogok! Di sini? Polisi di sini juga tidak bisa disogok! Ah yang benar? Benar, tetapi polisi tidur dan polisi patung, iya kan? (Kita memang keterlaluan, selalu menjelek-jelekkan aparat, kenapa ya?).
Dan banyak lagi perbandingan-perbandingan lain yang membuat sepertinya hidup di Indonesia itu tidak ada enak-enaknya dan tidak ada
untung-untungnya!
Padahal, harga CD, VCD, dan DVD di sini sepersepuluh dari harga di luar negeri! Untung kan itu?
Bahkan, untuk mendapatkan ijazah pun mudah sekali di sini, tidak seperti di luar negeri! Enak benar kan?
SIM? Wah tak perlu repot seperti mendapatkan rijbewijs di Belanda. Enak!
KTP? Sepele, jangan dibandingkan dengan ID Card di Malaysia, apalagi greencard di Amerika! Gampang dan menguntungkan.
Jadi politikus? Wah mudah, tidak perlu punya uang seperti di Amerika, cukup jago berjanji dan pandai berbohong! Murah kan? Untungkan?
Jadi pegawai negeri? Cukup masuk batalion 702. (Maksudnya masuk pukul 07.00 terus 0 alias tidak ada di kantor dan masuk lagi pukul 02.00 siang untuk absen!).
Jadi pengusaha? Ah, dekati saja penguasa! Beres! Enak!
Jadi kolumnis Kompas? Eh, saya yang bodoh saja bisa! Mudah kan?
Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
Bukankah catatan tadi di atas adalah keuntungan bagi kita kalau hidup di Indonesia. Negara ini tidak benar, tetapi bagi orang "tidak benar" seperti saya, saya sudah benar hidup di negara yang tidak benar ini. Coba saya hidup di negara benar, pasti saya jadi tidak benar dan mungkin sudah dihukum mati! Untung kan saya?
Untung? Untung? Untung? Gundulmu sing untung! *...gueguegueu ...i like this word! :D *
*...postingan ini untuk mengenang om harry roesli ...selamat jalan om! sampaikan salam kami buat malaikat penghuni surga...
SEORANG satpam baru saja jadi satpam, kebetulan orangnya disiplin dan taat perintah. Si satpam ini bekerja di sebuah toko swalayan dan diperintahkan oleh atasannya untuk menjaga pintu masuk ke toko swalayan. Perintah khusus dari atasannya ialah seluruh pengunjung harus menitipkan tasnya pada dia (si satpam) sebelum masuk ke toko swalayan, tanpa kecuali!!
Ketika seorang pengunjung laki-laki-tanpa membawa tas-ingin masuk ke toko swalayan tadi, kontan si satpam berteriak, "Bapak harus menitipkan tas dulu, baru boleh masuk ke dalam toko!"
Pengunjung tadi berdalih, "Lho, tetapi saya tidak membawa tas, jadi apa yang harus saya titipkan?!"
"Tidak peduli, pokoknya perintah atasan harus titipkan tas, baru masuk!"
"Tetapi, saya tidak bawa tas!"
Si satpam berpikir sejenak, lalu, "Kalau begitu Bapak pulang dulu ke rumah, lalu bawa tas, lalu ke sini lagi, lalu titipkan tas Bapak, baru saya izinkan Bapak masuk toko!"
CERITA di atas hampir mirip dengan cerita bapak polisi Banyumas yang katanya salah menafsirkan perintah. Lha kok bisa ya, seorang melati tiga salah menafsirkan perintah? Saya curiga bukannya sang melati tiga yang salah, tetapi jangan-jangan memang perintahnya yang salah. Atau mungkin perintah tadi benar, si melati tiga juga benar, yang salah ya saya ini, rakyat yang memang bodoh!
Bayangkan begitu bodohnya saya ini, sampai-sampai cukup dengan uang seratus ribu rupiah saja saya jual suara saya. Padahal kalau diingat, harga kambing saja dua juta rupiah, iya kan?
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya merasa kasihan kepada seorang kakak dan adiknya yang sekarang sakit (sembari menghindari hukum) dan dirawat di Rumah Sakit Polri, gara- gara kebanyakan "makan" gula!
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya percaya bahwa Margareth Thatcherm *mantan PM Inggris* itu kebanyakan minum air dari Buyat sehingga dia banyak mengandung merkuri dan bijih logam makanya dijuluki Wanita Besi!
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya tidak lagi mempertanyakan kapan kasus Eddy Tanzil di-SP3- kan? Toh, Eddy Tanzilnya juga tidak ketemu-ketemu! Susah ya mencarinya? Lho, intel-intel yang banyak itu ke mana ya?
Begitu bodohnya saya, sampai-sampai saya kaget dengan ketegasan pemerintah yang mengeksekusi mati seorang bandar narkoba. Terlepas dari pro dan kontra hukuman mati, tetapi naluri kebodohan saya mengatakan, kayaknya memang perlu tegas seperti itu. Kenapa? Karena narkoba sudah merusak mental dan moral generasi muda. Nah, kalau yang merusak mental dan moral generasi tua, apa? Ya korupsi dong! Jadi, koruptor kapan di-"tegas"-kan eksekusinya? Seperti di China dan Korea koruptor dihukum mati, di sini kapan?
MEMANG kita selalu membanding-bandingkan negara kita dengan negara lain. Dan selalu kita merasa negara kita ini lebih jelek dari negara lain!
Misalnya, di China koruptor dihukum mati, di Indonesia koruptor itu hukumnya sudah "mati"! (Tuh, kita selalu memosisikan negara kita di posisi yang payah).
Singapura itu bersihnya lebih bersih dari kulitnya Shinta Bella!
Jakarta? Wah, Jakarta itu kotor banget seperti kulitnya orang yang berpenyakit kulit akibat minum air di Buyat. (Nah kan, betul kan, selalu kita menganggap negara lain lebih bagus dari negara kita).
Di Eropa, orang menganggur disubsidi seribu euro! Di sini? Boro-boro yg menganggur, yang bekerja saja gajinya tidak sebesar itu! (Lagi-lagi kita selalu memojokkan kondisi di Indonesia, iya kan?).
Pemimpin di luar negeri kalau punya kesalahan pasti mundur dari jabatannya! Di sini? Mundur juga, tetapi yang mundur akhlaknya! (Tuh, kita selalu menganggap pemimpin kita itu lebih jelek kalau dibandingkan dengan pemimpin di negeri orang).
Polisi di Inggris benar-benar berwibawa dan tidak bisa disogok! Di sini? Polisi di sini juga tidak bisa disogok! Ah yang benar? Benar, tetapi polisi tidur dan polisi patung, iya kan? (Kita memang keterlaluan, selalu menjelek-jelekkan aparat, kenapa ya?).
Dan banyak lagi perbandingan-perbandingan lain yang membuat sepertinya hidup di Indonesia itu tidak ada enak-enaknya dan tidak ada
untung-untungnya!
Padahal, harga CD, VCD, dan DVD di sini sepersepuluh dari harga di luar negeri! Untung kan itu?
Bahkan, untuk mendapatkan ijazah pun mudah sekali di sini, tidak seperti di luar negeri! Enak benar kan?
SIM? Wah tak perlu repot seperti mendapatkan rijbewijs di Belanda. Enak!
KTP? Sepele, jangan dibandingkan dengan ID Card di Malaysia, apalagi greencard di Amerika! Gampang dan menguntungkan.
Jadi politikus? Wah mudah, tidak perlu punya uang seperti di Amerika, cukup jago berjanji dan pandai berbohong! Murah kan? Untungkan?
Jadi pegawai negeri? Cukup masuk batalion 702. (Maksudnya masuk pukul 07.00 terus 0 alias tidak ada di kantor dan masuk lagi pukul 02.00 siang untuk absen!).
Jadi pengusaha? Ah, dekati saja penguasa! Beres! Enak!
Jadi kolumnis Kompas? Eh, saya yang bodoh saja bisa! Mudah kan?
Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
Bukankah catatan tadi di atas adalah keuntungan bagi kita kalau hidup di Indonesia. Negara ini tidak benar, tetapi bagi orang "tidak benar" seperti saya, saya sudah benar hidup di negara yang tidak benar ini. Coba saya hidup di negara benar, pasti saya jadi tidak benar dan mungkin sudah dihukum mati! Untung kan saya?
Untung? Untung? Untung? Gundulmu sing untung! *...gueguegueu ...i like this word! :D *
*...postingan ini untuk mengenang om harry roesli ...selamat jalan om! sampaikan salam kami buat malaikat penghuni surga...
penjara pikiran...
2:51 PM
Seekor belalang telah lama terkurung di dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain, namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran dia menghampiri belalang lain itu dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?"
Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Di manakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan."
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan kebiasaan bisa membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam-dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dengan seutas tali yang terikat pada sebilah pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada "sesuatu" yang mengikat kakinya, padahal "sesuatu" itu bisa jadi hanya seutas tali kecil...
Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa Anda bisa "melompat lebih tinggi dan lebih jauh" kalau Anda mau menyingkirkan "penjara" itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap di luar batas kemampuan dan pemikiran Anda?
Sebagai manusia kita berkemampuan untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin Anda capai. Sakit memang, lelah memang, tapi jika Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan Anda akan lebih baik kalau Anda hidup dengan cara hidup pilihan Anda sendiri, bukan dengan cara yang dipilihkan orang lain untuk Anda.
Dikutip dari suaramerdeka.com | inspirated from yanichan
...kata ...kata ..kata ...kata
9:33 AM
Puisi adalah pembicaraan ke dalam hati, yang mengimplikasikan pengakuan orang kedua sebagai person, dengan segala kemungkinannya
Puisi tidak mengintimidasi ataupun memanipulasi, bahkan mendikte sekalipun
Puisi adalah ungkapan manusia atas nama dirinya sendiri
tidak bersembunyi di balik prasangka dan pemaksaan
Arti kata adalah kata itu sendiri
kata tidak berhak berada di bawah kata lainnya, kata itu bebas, merdeka!
Merdeka untuk mengartikan dirinya sendiri
Bebas untuk menjadi dirinya sendiri
Manusia telah memperkosa kata menjadi bentuk yang disuka
Menyebarkan prasangka pada kata, merendahkan keindahannya, melepaskan tanggung jawab setelah kata terlontar
Kata telah kehilangan makna hakikinya, dipelintir, diputar balikkan, di analogikan dengan kata lain yang dianggap sama
Tapi pada kenyataannya tidak sama sekali!
Maka berkata-katalah kalian.....
dan temukan keindahan didalamnya
daB!
09 33 am dec 09 2004
Puisi tidak mengintimidasi ataupun memanipulasi, bahkan mendikte sekalipun
Puisi adalah ungkapan manusia atas nama dirinya sendiri
tidak bersembunyi di balik prasangka dan pemaksaan
Arti kata adalah kata itu sendiri
kata tidak berhak berada di bawah kata lainnya, kata itu bebas, merdeka!
Merdeka untuk mengartikan dirinya sendiri
Bebas untuk menjadi dirinya sendiri
Manusia telah memperkosa kata menjadi bentuk yang disuka
Menyebarkan prasangka pada kata, merendahkan keindahannya, melepaskan tanggung jawab setelah kata terlontar
Kata telah kehilangan makna hakikinya, dipelintir, diputar balikkan, di analogikan dengan kata lain yang dianggap sama
Tapi pada kenyataannya tidak sama sekali!
Maka berkata-katalah kalian.....
dan temukan keindahan didalamnya
daB!
09 33 am dec 09 2004
RSS Feed (xml)