The Question and The Answer
8:38 AM
Berikut cuplikan dialog antara guru dan seorang murid baru di sebuah padepokan seni di negeri Golekan :
mbah : Le, kamu sudah tahu apa yang dimaksud dengan seni? apa gunanya itu buat kamu?
Murid: (sok tahu) ya jelas tahu to mbah...seni itu adalah tempat bagi saya untuk mencari ilmu. karena seni itu bebas, maka inilah tempat bagi saya, karena saya orangnya tidak mau di dikte, di komando, atau disuruh-suruh seperti babu. saya ingin bebas MERDEKA!!!!
mbah : le, mulai besok baca buku yang banyak, teruslah berkesenian, buka mata dan telingamu, banyak melihat, banyak mendengar dan banyak berpikir...sepuluh tahun lagi kamu boleh kembali kesini dan jawab sekali lagi pertanyaanku yang tadi...
daB!
mbah : Le, kamu sudah tahu apa yang dimaksud dengan seni? apa gunanya itu buat kamu?
Murid: (sok tahu) ya jelas tahu to mbah...seni itu adalah tempat bagi saya untuk mencari ilmu. karena seni itu bebas, maka inilah tempat bagi saya, karena saya orangnya tidak mau di dikte, di komando, atau disuruh-suruh seperti babu. saya ingin bebas MERDEKA!!!!
mbah : le, mulai besok baca buku yang banyak, teruslah berkesenian, buka mata dan telingamu, banyak melihat, banyak mendengar dan banyak berpikir...sepuluh tahun lagi kamu boleh kembali kesini dan jawab sekali lagi pertanyaanku yang tadi...
daB!
untukmu TUBUHKU
7:00 AM
p>saat ini.........
malam terakhirku di usiaku saat ini
esok...
ketika bandul waktu berlalu dari angka bulat itu...
tubuhku bukan lagi di usiaku saat ini
tubuhku bertambah tua
dan aku semakin mendekat pada saat matiku
saat itu aku tak tahu...
semakin dewasakah aku
semakin hebatkah aku
beranjakkah aku dari tidur penuh khayalan
atau bahkan.........
aku menjadi semakin kerdil
sekerdil hatiku yang tak mampu berlari
yang enggan menggapai asa
malam ini.........
setulus hatiku kuucapkan untukmu tubuhku
selamat bertambah tua
malam terakhirku di usiaku saat ini
esok...
ketika bandul waktu berlalu dari angka bulat itu...
tubuhku bukan lagi di usiaku saat ini
tubuhku bertambah tua
dan aku semakin mendekat pada saat matiku
saat itu aku tak tahu...
semakin dewasakah aku
semakin hebatkah aku
beranjakkah aku dari tidur penuh khayalan
atau bahkan.........
aku menjadi semakin kerdil
sekerdil hatiku yang tak mampu berlari
yang enggan menggapai asa
malam ini.........
setulus hatiku kuucapkan untukmu tubuhku
selamat bertambah tua
6:40 AM
Read On
0
comments
" daun terbang karena Angin bertiup atau karena pohon tidak memintanya untuk tinggal? "
- - -
bandung, isola 2005, mei
- - -
bandung, isola 2005, mei
K O N D O M
1:34 PM
- this post dedicated for su'BAGUS 'wayang' ANTARIANTO di puncak gunung tertinggi yang dingin dan sepi... * doesn't mean i miss you fucker! ')
" ...Kami butuh pembunuh !!" kalimat itu diucapkannya sungguh sungguh. Aku rasa dia tidak sedang bercanda. Sedari tadi dia memang serius dengan semua ucapannya walau aku bahkan tidak sanggup sekadar mempercayai bagaimana dia bisa tiba-tiba duduk di ujung amben tempatku berbaring payah. Penjelasan panjang lebar yang diberikannya terdengar seperti dongeng paling khayal. Otakku masih belum sanggup menampung fenomena yang biasanya kita sebut 'ghaib' itu mendadak menjelma kasat mata. Dan tiba-tiba dia mengatakan butuh pembunuh?
Sudahlah, kalau kamu di sini karena otakku mulai memble membedakan mana yang nyata mana yang halusinansi, sebaiknya kamu lenyap saja. Kayak tadi, sepi!"
Dia tersenyum masam, tak peduli dengan keadaanku yang terhuyung-huyung di ambang batas waras, bahkan lebih.
" Engkaulah yang bisa menyelamatkan manusia dari kepunahan. Maka dari itu aku datang kemari. Maka dari itu dengarlah ceritaku," nada bicaranya benar-benar mendesak. Tidak memberi kesempatan lawan bicaranya untuk sekadar melirik celah menghindar. Tidak sopan!
"Kamu boleh tidak percaya. Boleh menganggap semua ini halusinasi yang disebabkan demammu yang menyedihkan itu. Tapi dengarlah dulu ceritaku sebelum kamu mengusirku. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan umat manusia..."
Oke.., oke! Aku tidak peduli lagi apakah kamu nyata atau bukan. Siapa pula yang peduli padaku sekarang? [ . . . ]
- - -
Date: Fri, 20 May 2005 12:38:53 -0700 (PDT)
From: dr_hate_cure@yahoo.com
Subject: one of mine
To: jogjasweet@yahoo.com
- - -
Date: Wed, 25 May 2005 16:37:10 -0700 (PDT)
From: jogjasweet@yahoo.com
Subject: Fwd: one of mine
To: herrick_de_grunge@yahoo.com
" ...Kami butuh pembunuh !!" kalimat itu diucapkannya sungguh sungguh. Aku rasa dia tidak sedang bercanda. Sedari tadi dia memang serius dengan semua ucapannya walau aku bahkan tidak sanggup sekadar mempercayai bagaimana dia bisa tiba-tiba duduk di ujung amben tempatku berbaring payah. Penjelasan panjang lebar yang diberikannya terdengar seperti dongeng paling khayal. Otakku masih belum sanggup menampung fenomena yang biasanya kita sebut 'ghaib' itu mendadak menjelma kasat mata. Dan tiba-tiba dia mengatakan butuh pembunuh?
Sudahlah, kalau kamu di sini karena otakku mulai memble membedakan mana yang nyata mana yang halusinansi, sebaiknya kamu lenyap saja. Kayak tadi, sepi!"
Dia tersenyum masam, tak peduli dengan keadaanku yang terhuyung-huyung di ambang batas waras, bahkan lebih.
" Engkaulah yang bisa menyelamatkan manusia dari kepunahan. Maka dari itu aku datang kemari. Maka dari itu dengarlah ceritaku," nada bicaranya benar-benar mendesak. Tidak memberi kesempatan lawan bicaranya untuk sekadar melirik celah menghindar. Tidak sopan!
"Kamu boleh tidak percaya. Boleh menganggap semua ini halusinasi yang disebabkan demammu yang menyedihkan itu. Tapi dengarlah dulu ceritaku sebelum kamu mengusirku. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan umat manusia..."
Oke.., oke! Aku tidak peduli lagi apakah kamu nyata atau bukan. Siapa pula yang peduli padaku sekarang? [ . . . ]
- - -
Date: Fri, 20 May 2005 12:38:53 -0700 (PDT)
From: dr_hate_cure@yahoo.com
Subject: one of mine
To: jogjasweet@yahoo.com
- - -
Date: Wed, 25 May 2005 16:37:10 -0700 (PDT)
From: jogjasweet@yahoo.com
Subject: Fwd: one of mine
To: herrick_de_grunge@yahoo.com
lari kutak, berpaling kutak, tatap ku
12:50 PM
disini masih ku berkutat dalam lumpur hisap
hujan tak juga mereda dingin makin meresap
kata terucap bibir tertutup rapat hatiku sesak
ingin kuberontak kakiku terikat
tali kekang yang kutempa dengan peluh keringat
senja telah surut jingga tak lagi terlarut
gelap seketika hati dan jiwa kalut
entah dapat kuterjang derasnya samskara
adakah lentera yang kan jelaskan semua
dan ledakkan
rantai pengikatku
anjing penjagaku
tempurung yang kerdilkan loncatan pemikiranku
chup!
hujan tak juga mereda dingin makin meresap
kata terucap bibir tertutup rapat hatiku sesak
ingin kuberontak kakiku terikat
tali kekang yang kutempa dengan peluh keringat
senja telah surut jingga tak lagi terlarut
gelap seketika hati dan jiwa kalut
entah dapat kuterjang derasnya samskara
adakah lentera yang kan jelaskan semua
dan ledakkan
rantai pengikatku
anjing penjagaku
tempurung yang kerdilkan loncatan pemikiranku
chup!
RSS Feed (xml)