nothing
8:43 AM
aku baru tahu arti sabar itu seperti apa. dan ternyata memang 80 persen dari hidup ini hanya terjadi begitu saja. cuma 20 persen dari hidup manusia yang memang dibentuk dari hasrat, mimpi, dan kesungguhan hati. menunggu itu sucks! dan kamu tahu nggak, selagi menunggu, kita bisa melakukan hal2 yang lebih mengerikan daripada ketika kita sedang lari dari sesuatu. karena ketika menunggu, fokus cuma ada buat yang ditunggu, sehingga yang lain tidak jadi pertimbangan. lost focuss. setiap orang butuh something buat pegangan. biar nggak lost. my grip is you guys. and I think i just lost it. help me live on my 20% world. at least bantu doa lah, ya gak!
memory
11:45 AM
malam itu
saat kita kumpul bersama
kita ngobrol bersama
berbicara tentang semuanya
tapi.....
kini semuanya hilang
sepi, kembali seperti pekuburan
aku merindukan malam-malam itu
saat kita kumpul bersama
kita ngobrol bersama
berbicara tentang semuanya
tapi.....
kini semuanya hilang
sepi, kembali seperti pekuburan
aku merindukan malam-malam itu
something new
12:54 AM
sebentar lagi bulan puasa. dimana hari dimulai lebih pagi dan malam tak terasa sepi. gelap dinanti dan terang dihindari. memori yang telah lalu tentang bulan itu, sepertinya aku tak bisa putuskan, begitu indah ataukah terlalu menyedihkan. yang pasti saat itu kalian masih bersamaku. aku ingat ada sebuah tempat. tempat itu sebenarnya bukan untuk berkumpul dan melakukan yang biasa kita lakukan, tindakan-tindakan sembrono dan tak berguna. tapi kita selalu mencari alasan untuk selalu berdiam di tempat itu. walau alasan itu sebenarnya konyol dan menggelikan. entah sekarang aku mulai tidak mampu membuat alasan, atau sudah kehilangan keinginan untuk terus berkeliaran kembali di tempat itu. sebentar lagi bulan puasa. ramadhan pertama sejak aku pergi dari sana. sepertinya, semua akan baik-baik saja.
sebuah perenungan (I)
6:59 AM
bukankah sudah kubilang hidup ini bukanlah sebuah pilihan kamu harus menjalaninya atau tidak. waktumu untuk memilih telah usai dulu, jauh sebelum kamu dilahirkan.
Sekarang saatnya untuk menjalaninya dan menerima semua konsekuensi atas pilihanmu dulu tidak ada kata tidak, semua telah terjadi dan tidak akan ada yang bisa kamu ciptakan hanya dengan berlari meninggalkan sesuatu yang harus kamu selesaikan.
aku inget kata pepatah
lebih baek terguling-guling dan kesakitan karena melakukan sesuatu yang menjadi pilihanku daripada menyesal karena menyadari I just sit in my ass and do nothing for my LIFE!!!
....sangat disayangkan :((
lalu apa yang pantas disebut hidup jika kamu tidak pernah mengejar dan berusaha meraihnya?
...oh shit i forgot where'd i put my fuckin life!!!!
Sekarang saatnya untuk menjalaninya dan menerima semua konsekuensi atas pilihanmu dulu tidak ada kata tidak, semua telah terjadi dan tidak akan ada yang bisa kamu ciptakan hanya dengan berlari meninggalkan sesuatu yang harus kamu selesaikan.
aku inget kata pepatah
lebih baek terguling-guling dan kesakitan karena melakukan sesuatu yang menjadi pilihanku daripada menyesal karena menyadari I just sit in my ass and do nothing for my LIFE!!!
....sangat disayangkan :((
lalu apa yang pantas disebut hidup jika kamu tidak pernah mengejar dan berusaha meraihnya?
...oh shit i forgot where'd i put my fuckin life!!!!
AGAMA, CANDU MASYARAKAT?
5:03 PM
Sebagai orang bebas, haruskah kita peduli?
" ketika kuntum-kuntum bunga yang warna-warni di taman tidak lagi didatangi oleh lebah-lebah penghisap madu, tapi oleh hama-hama yang mematikan..."
"kita tidak akan lagi melihat mereka memekar, apalagi meronakan cahanya keindahannya, kita hanya akan melihat mereka mati dan hama-hama yang kekenyangan..."
---
Sungguh memalukan jika kita melihat pola aktivitas keagamaan kita akhir-akhir ini, lihatlah Televisi, dengarkanlah Radio, bacalah koran-koran dan majalah-majalah, dan kemudian dengarkanlah hati nurani... .
Jika anda seorang ateis, maka anda akan tertawa terbahak-bahak, dan menunjuk-nunjuk kebodohan kaum beragama di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Anda akan menertawakan rakyat Sudan yang sedang diiris dengan konflik etnis dan agama gara-gara pembunuhan John Garang yang beragama Kristen. Anda akan menertawakan rakyat Inggris yang secara statistik mengalami tingkat kekerasan fisik dan non-fisik terhadap warga Inggris yang beragama Islam sebesar 600% oleh sesama 'British' lainnya yang berbeda agama, buntut dari pengemboman Bom London beberapa saat yang lalu dan menewaskan 75 orang dan melukai 700 orang lainnya. Anda akan menertawakan pembunuhan warga Syi'ah dan Kurdi di Irak oleh Militan Sunni. Dan anda akan menertawakan warga muslim Indonesia yang sedang bertengkar soal 'sesat dan menyesatkan' terhadap aliran yang dianggap sesat oleh kaum Ulama di Munas MUI bulan Juli kemarin.
'Tertawalah, tertawalah sepuas anda, hahahaha....barangkali anggapan anda selama ini benar, bahwa agama hanya akan membawa malapetaka bagi umat manusia itu sendiri. Bukankah begitu?' benarkah begitu?'... >>>>
"...atau hati anda sedang teriris pedih dengan kondisi umat manusia seperti sekarang yang sedang saya alami ini?"
Lantas apa yang akan anda katakan? "Peduli amat?" atau, "Terus Kenapa?", atau "Oh, ya?", atau anda terdiam sejenak kemudian berpikir?
Karl Marx pernah bertutur kata tentang agama: " Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat!"...
Perkataan Marx di atas jika dibaca dengan konteks filsafat, dapat dikatakan sangat jujur dan mulia, karena bisa memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kelangsungan 'keberagamaan' umat manusia itu sendiri melalui kritisisme yang dikembangkannya. Tapi, jika kita lihat dengan tafsir teks suci yang baku, sebagaimana dianut oleh kebanyakan kaum agamawan, seperti pendeta, bhikku dan ulama, perkataan Marx di atas merupakan ungkapan yang kasar, najis dan menghina agama, tidak bisa diterima! Maka dikultuskanlah Karl Marx, sebagaimana Nietczhe dan Engels sebagai ikon ateisme artinya tidak percaya kepada keberadaan Tuhan, a dan Teis.
Pada masa sekaratnya Orde Lama rezim Sukarno (1963-1965), Rezim Militer yang menentang Sukarno dan hendak mendirikan rezim Orde Baru pada saat itu, menjadikan ikon ateisme yang diidentikkan dengan sosialisme dan komunisme sebagai musuh kaum beragama, terutama Islam. Melalui 'politik kiri-kanan' inilah yang hingga saat sekarang ini, kebanyakan dari kita masih terbius menggunakan istilahnya, kaum beragama di Indonesia diadu-dombakan. Yang akhirnya menjadikan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sukarno sebagai pihak yang harus menyingkir dari kekuasaannya.
Padahal, Karl Marx yang dibesarkan di dalam keluarga yang religius dan kaya itu, mengutarakan hal tersebut demi memajukan umat manusia yang masih 'candu', 'terbius' dan 'bernafsu' oleh ayat-ayat agama yang seringkali membawa mereka kepada suatu kefrustasian dan penghampaan bagi mereka sendiri, yang pada ahirnya, suatu kehancuran.
Nama Karl Marx dan tokoh-tokoh yang disebut Ateis lainnya, sebenarnya mengkritik agama seperti di atas dalam konteks filosofis dan historis. Artinya, untuk memahaminya, kita harus melihat konteks mereka berbicara, apa, siapa dan kapan yang dimaksudkan oleh mereka? Berdasarkan literatur penafsiran modern karya-karya filsafat dan teori Marx ttg Agama, dapat ditemukan, bahwa ia hanya mengkritik konteks beragama masyarakat Kristen Eropa dan kaum Gereja di Abad Pertengahan, yaitu suatu masa sebelum pecahnya "Renaissance' dan Revolusi Perancis di abad ke-18, dimana dewan Gereja masih mempunyai otoritas penuh untuk menentukan 'mana yang baik' dan 'mana yang buruk', 'sesat dan tdiak sesat', 'baik dan buruk', dan untuk itu, mereka mempunyai kewenangan untuk menghukumnya hingga tingkat hukuman yang sangat mengerikan, hak memberi hukuman ini dinamakan 'Inkuisisi' (Inquisition).
Parahnya, Dewan Gereja ini selalu dijadikan sebagai alat pengesah kebijakan Raja-raja di Eropa terhadap rakyatnya secara diskriminatif, opresif, eksploitif dan massive, yang tentunya, menyengsarakan rakyat itu sendiri....mereka terus dibiarkan bodoh agar tidak ada kemungkinan terjadinya perlawanan terhadap raja, mereka terus dibiarkan miskin dengan membayar pajak yang tinggi, secara status sosial mereka terus dibiarkan berada di bawah posisinya dibandingkan kaum ningrat (borjuis). Ketika para ningrat menikmati hasil pajak rakyatnya yang menderita, para pendeta terus menerus meminta rakyatnya untuk terus bersabar dan mengabdi kepada kristus dan raja agar segera dihilangkan kesengsaraannya...dan terus menerus seperti itu.
Friedriech W Nietzche, seorang filusuf eksistensialis dari Eropa mengomentari kondisi masyarakat Eropa seperti ini yang senada dengan Marx, "Bahwa Tuhan telah Mati!", maksudnya Tuhan telah mati ini, mengartikan teks 'Tuhan' yang selalu dijadikan simbol umat manusia yang beragama sebagai 'penolong' dan 'penyelamat' ini ternyata tidak pernah ada. Ribuan tahun umat manusia meyakini agama dan berdoa kepada Tuhannya untuk meminta tolong dan do'a keselamatan, toh, pada akhirnya akan selalu ada bencana dan perang antar umat manusia. Maka, jika tidak ada keselamatan di kehidupan dunia ini, Tuhan telah mati....karena kita sebagai manusia yang bertindak dan mengatas-namakan diri-Nya' secara tidak sadar telah membunuh-Nya dengan tangan-tangan kita sendiri...melalui kebencian, permusuhan dan peperangan...
Kepasifan kita terhadap Masalah Agama dan Filsafat
Kita sering berbicara tentang musik rock 'n ' roll, tentang seringai bunyi gitar Van Halen atau Joe Satriani. Kita sering berbicara tentang clothing dan sepatu vans, kita sering berbicara nikmatnya bercinta dan buruknya zaman. Kita sering menenggak alkohol dan mengacungkan jari tengah kita kepada sistem kehidupan yang membelenggu kita dan keluarlah kata-kata kasar....F**K Y**! sebagai upaya pemenuhan hasrat birahi nestapa derita kita...
Tapi, kita tidak pernah mencoba berbicara dan membaca Agama dan Filsafat secara kritis kemudian menghidupkan kritisisme di dalam kebudayaan hidup bersosialisasi kita. Seringkali kita menghujat sesuatu atas nama idealisme kita terhadap sesuatu yang tidak pernah ada sesungguhnya, karena kesalahan kita dalam membaca 'teks' itu sendiri. Kita seolah-olah menjadi kaum beragama sejati hanya karena telah mendukung fatwa Ulama yang mengharamkan liberalisasi dan pluralisme dalam menafsirkan teks agama yang kebenarannya hanya Tuhan sendiri yang mengetahui?
Dan untuk yang kesekian kalinya, kita kembali lagi menjadi makhluk yang bodoh karena tidak bisa membaca teks lama yang sudah usang dan basi selama ini. Kita tidak pernah mau belajar dan hanya ingin menjustifikasi kebodohan kita dengan menganggap orang lain lebih bodoh dari kita sendiri. Sebuah keangkuhan akan jiwa yang hampa dan menangis meronta melalui perkataan serta pikiran yang membohongi diri kita sendiri. Lantas apa dan siapa yang ingin kita lawan dan musuhi? orang lain yang berbeda dengan kitakah? atau diri kita sendiri kah? atau seorang makhluk imaginer yang tidak bisa kita sentuh kemudian kita merasa senang karena kita kemudian bisa menyebutnya sesat dan kafir? atau Tuhankah yang harus kita salahkan?
Anulirisasi (pengabsenan) atau sikap apatis kita dalam menyikapi persoalan agama dan filsafat yang mewarnai kehidupan kita sehari-hari ini, tidak terkecuali di dalamya berbicara tentang musik dan alkohol sebagai simbol perlawanan terhadap kemapanan zaman, hanya menjadikan kita sebagai pihak yang pasif hanya menonton perubahan sosial yang ada. Jika liberalisasi, pluralisme dan sekularisasi politik lantas diharamkan oleh agama, lantas, apa yang bisa kita lihat dalam lima tahun ke depan? Barangkali kita tidak bisa lagi membeli buku-buku filsafat, film-film barat, musik-musik barat, di setiap acara musik terjadi penggeledahan oleh mereka yang mengaku sebagai polisi agama dan mengatasnamakan Tuhan untuk menghancurkan gitar-gitar kesayangan kita dan head-cabinet hasil kredit ringan, semua produk budaya barat "haram" karena merupakan produk budaya liberal yang datang dari Barat. Ini bukan artinya kita harus melindungi budaya Barat, tapi akan ada suatu 'pengeliminasian' dan 'penghancuran' sisi kemanusiaan kita yang sangat berharga, dan penghancuran sisi kemanusiaan ini sudah mulai dilakukan di beberapa tempat di Indonesia dengan dilarangnya adat istiadat tarian khusus sunda di Cianjur karena diangap 'musyrik'?
Dan yang lebih mengerikan, kita akan disebut sebagai sampah masyarakat atau aliran sesat yang dikejar-kejar hanya karena kita memiliki keyakinan kita sendiri...
Keberpihakan kita dalam subjek konflik agama, sudah dimaklumi , karena kita mengkonsumsi agama sebagai candu yang membutakan kita, bukan yang mencerahkan kita, jika niscaya pencerahan itu akan didapat hanya dari sifat kritis kita terhadap sesuatu, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang sakral sekali pun. Ini merupakan masalah kita dalam kehidupan sehari-hari, hak kita untuk mengemukakan kebebasan berpendapat, kebebasan berpikir dan menjamin keberlangsungan kritisisme kita sebagai manusia berakal di masa sekarang atau di masa yang akan datang, sebagai suatu perjuangan kita untuk bebas berekspresi dan berkreasi tanpa ada unsur trauma dan jera untuk mencoba...kita adalah manusia bebas!
Baik agama maupun musik seharusnya bisa menjadi instrumen umum untuk mengakomodir kebutuhan kita sebagai manusia, bukan sebagai pencabut jiwa seni yang kritis dan progresif dalam mengembangkan kembali khasanah kebudayaan masyarakat global. Maka dapat dipahami jika John Lennon telah memimpikan dunia tanpa agama dan negara dalam lirik "Imagine" nya sebagai suatu mimpi yang 'barangkali' bisa mewujudkan kehidupan manusia yang damai dan sejahtera, karena niscaya, untuk meraih kebahagiaan sesungguhnya tidak perlu ada pamrih apapun.
"All the things in the future are never known from what's happening right now, What I've predicted, the more passive we are, the more they control our life..."
article taken from http://aloneatlast.multiply.com/journal/item/26
" ketika kuntum-kuntum bunga yang warna-warni di taman tidak lagi didatangi oleh lebah-lebah penghisap madu, tapi oleh hama-hama yang mematikan..."
"kita tidak akan lagi melihat mereka memekar, apalagi meronakan cahanya keindahannya, kita hanya akan melihat mereka mati dan hama-hama yang kekenyangan..."
---
Sungguh memalukan jika kita melihat pola aktivitas keagamaan kita akhir-akhir ini, lihatlah Televisi, dengarkanlah Radio, bacalah koran-koran dan majalah-majalah, dan kemudian dengarkanlah hati nurani... .
Jika anda seorang ateis, maka anda akan tertawa terbahak-bahak, dan menunjuk-nunjuk kebodohan kaum beragama di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Anda akan menertawakan rakyat Sudan yang sedang diiris dengan konflik etnis dan agama gara-gara pembunuhan John Garang yang beragama Kristen. Anda akan menertawakan rakyat Inggris yang secara statistik mengalami tingkat kekerasan fisik dan non-fisik terhadap warga Inggris yang beragama Islam sebesar 600% oleh sesama 'British' lainnya yang berbeda agama, buntut dari pengemboman Bom London beberapa saat yang lalu dan menewaskan 75 orang dan melukai 700 orang lainnya. Anda akan menertawakan pembunuhan warga Syi'ah dan Kurdi di Irak oleh Militan Sunni. Dan anda akan menertawakan warga muslim Indonesia yang sedang bertengkar soal 'sesat dan menyesatkan' terhadap aliran yang dianggap sesat oleh kaum Ulama di Munas MUI bulan Juli kemarin.
'Tertawalah, tertawalah sepuas anda, hahahaha....barangkali anggapan anda selama ini benar, bahwa agama hanya akan membawa malapetaka bagi umat manusia itu sendiri. Bukankah begitu?' benarkah begitu?'... >>>>
"...atau hati anda sedang teriris pedih dengan kondisi umat manusia seperti sekarang yang sedang saya alami ini?"
Lantas apa yang akan anda katakan? "Peduli amat?" atau, "Terus Kenapa?", atau "Oh, ya?", atau anda terdiam sejenak kemudian berpikir?
Karl Marx pernah bertutur kata tentang agama: " Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat!"...
Perkataan Marx di atas jika dibaca dengan konteks filsafat, dapat dikatakan sangat jujur dan mulia, karena bisa memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kelangsungan 'keberagamaan' umat manusia itu sendiri melalui kritisisme yang dikembangkannya. Tapi, jika kita lihat dengan tafsir teks suci yang baku, sebagaimana dianut oleh kebanyakan kaum agamawan, seperti pendeta, bhikku dan ulama, perkataan Marx di atas merupakan ungkapan yang kasar, najis dan menghina agama, tidak bisa diterima! Maka dikultuskanlah Karl Marx, sebagaimana Nietczhe dan Engels sebagai ikon ateisme artinya tidak percaya kepada keberadaan Tuhan, a dan Teis.
Pada masa sekaratnya Orde Lama rezim Sukarno (1963-1965), Rezim Militer yang menentang Sukarno dan hendak mendirikan rezim Orde Baru pada saat itu, menjadikan ikon ateisme yang diidentikkan dengan sosialisme dan komunisme sebagai musuh kaum beragama, terutama Islam. Melalui 'politik kiri-kanan' inilah yang hingga saat sekarang ini, kebanyakan dari kita masih terbius menggunakan istilahnya, kaum beragama di Indonesia diadu-dombakan. Yang akhirnya menjadikan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sukarno sebagai pihak yang harus menyingkir dari kekuasaannya.
Padahal, Karl Marx yang dibesarkan di dalam keluarga yang religius dan kaya itu, mengutarakan hal tersebut demi memajukan umat manusia yang masih 'candu', 'terbius' dan 'bernafsu' oleh ayat-ayat agama yang seringkali membawa mereka kepada suatu kefrustasian dan penghampaan bagi mereka sendiri, yang pada ahirnya, suatu kehancuran.
Nama Karl Marx dan tokoh-tokoh yang disebut Ateis lainnya, sebenarnya mengkritik agama seperti di atas dalam konteks filosofis dan historis. Artinya, untuk memahaminya, kita harus melihat konteks mereka berbicara, apa, siapa dan kapan yang dimaksudkan oleh mereka? Berdasarkan literatur penafsiran modern karya-karya filsafat dan teori Marx ttg Agama, dapat ditemukan, bahwa ia hanya mengkritik konteks beragama masyarakat Kristen Eropa dan kaum Gereja di Abad Pertengahan, yaitu suatu masa sebelum pecahnya "Renaissance' dan Revolusi Perancis di abad ke-18, dimana dewan Gereja masih mempunyai otoritas penuh untuk menentukan 'mana yang baik' dan 'mana yang buruk', 'sesat dan tdiak sesat', 'baik dan buruk', dan untuk itu, mereka mempunyai kewenangan untuk menghukumnya hingga tingkat hukuman yang sangat mengerikan, hak memberi hukuman ini dinamakan 'Inkuisisi' (Inquisition).
Parahnya, Dewan Gereja ini selalu dijadikan sebagai alat pengesah kebijakan Raja-raja di Eropa terhadap rakyatnya secara diskriminatif, opresif, eksploitif dan massive, yang tentunya, menyengsarakan rakyat itu sendiri....mereka terus dibiarkan bodoh agar tidak ada kemungkinan terjadinya perlawanan terhadap raja, mereka terus dibiarkan miskin dengan membayar pajak yang tinggi, secara status sosial mereka terus dibiarkan berada di bawah posisinya dibandingkan kaum ningrat (borjuis). Ketika para ningrat menikmati hasil pajak rakyatnya yang menderita, para pendeta terus menerus meminta rakyatnya untuk terus bersabar dan mengabdi kepada kristus dan raja agar segera dihilangkan kesengsaraannya...dan terus menerus seperti itu.
Friedriech W Nietzche, seorang filusuf eksistensialis dari Eropa mengomentari kondisi masyarakat Eropa seperti ini yang senada dengan Marx, "Bahwa Tuhan telah Mati!", maksudnya Tuhan telah mati ini, mengartikan teks 'Tuhan' yang selalu dijadikan simbol umat manusia yang beragama sebagai 'penolong' dan 'penyelamat' ini ternyata tidak pernah ada. Ribuan tahun umat manusia meyakini agama dan berdoa kepada Tuhannya untuk meminta tolong dan do'a keselamatan, toh, pada akhirnya akan selalu ada bencana dan perang antar umat manusia. Maka, jika tidak ada keselamatan di kehidupan dunia ini, Tuhan telah mati....karena kita sebagai manusia yang bertindak dan mengatas-namakan diri-Nya' secara tidak sadar telah membunuh-Nya dengan tangan-tangan kita sendiri...melalui kebencian, permusuhan dan peperangan...
Kepasifan kita terhadap Masalah Agama dan Filsafat
Kita sering berbicara tentang musik rock 'n ' roll, tentang seringai bunyi gitar Van Halen atau Joe Satriani. Kita sering berbicara tentang clothing dan sepatu vans, kita sering berbicara nikmatnya bercinta dan buruknya zaman. Kita sering menenggak alkohol dan mengacungkan jari tengah kita kepada sistem kehidupan yang membelenggu kita dan keluarlah kata-kata kasar....F**K Y**! sebagai upaya pemenuhan hasrat birahi nestapa derita kita...
Tapi, kita tidak pernah mencoba berbicara dan membaca Agama dan Filsafat secara kritis kemudian menghidupkan kritisisme di dalam kebudayaan hidup bersosialisasi kita. Seringkali kita menghujat sesuatu atas nama idealisme kita terhadap sesuatu yang tidak pernah ada sesungguhnya, karena kesalahan kita dalam membaca 'teks' itu sendiri. Kita seolah-olah menjadi kaum beragama sejati hanya karena telah mendukung fatwa Ulama yang mengharamkan liberalisasi dan pluralisme dalam menafsirkan teks agama yang kebenarannya hanya Tuhan sendiri yang mengetahui?
Dan untuk yang kesekian kalinya, kita kembali lagi menjadi makhluk yang bodoh karena tidak bisa membaca teks lama yang sudah usang dan basi selama ini. Kita tidak pernah mau belajar dan hanya ingin menjustifikasi kebodohan kita dengan menganggap orang lain lebih bodoh dari kita sendiri. Sebuah keangkuhan akan jiwa yang hampa dan menangis meronta melalui perkataan serta pikiran yang membohongi diri kita sendiri. Lantas apa dan siapa yang ingin kita lawan dan musuhi? orang lain yang berbeda dengan kitakah? atau diri kita sendiri kah? atau seorang makhluk imaginer yang tidak bisa kita sentuh kemudian kita merasa senang karena kita kemudian bisa menyebutnya sesat dan kafir? atau Tuhankah yang harus kita salahkan?
Anulirisasi (pengabsenan) atau sikap apatis kita dalam menyikapi persoalan agama dan filsafat yang mewarnai kehidupan kita sehari-hari ini, tidak terkecuali di dalamya berbicara tentang musik dan alkohol sebagai simbol perlawanan terhadap kemapanan zaman, hanya menjadikan kita sebagai pihak yang pasif hanya menonton perubahan sosial yang ada. Jika liberalisasi, pluralisme dan sekularisasi politik lantas diharamkan oleh agama, lantas, apa yang bisa kita lihat dalam lima tahun ke depan? Barangkali kita tidak bisa lagi membeli buku-buku filsafat, film-film barat, musik-musik barat, di setiap acara musik terjadi penggeledahan oleh mereka yang mengaku sebagai polisi agama dan mengatasnamakan Tuhan untuk menghancurkan gitar-gitar kesayangan kita dan head-cabinet hasil kredit ringan, semua produk budaya barat "haram" karena merupakan produk budaya liberal yang datang dari Barat. Ini bukan artinya kita harus melindungi budaya Barat, tapi akan ada suatu 'pengeliminasian' dan 'penghancuran' sisi kemanusiaan kita yang sangat berharga, dan penghancuran sisi kemanusiaan ini sudah mulai dilakukan di beberapa tempat di Indonesia dengan dilarangnya adat istiadat tarian khusus sunda di Cianjur karena diangap 'musyrik'?
Dan yang lebih mengerikan, kita akan disebut sebagai sampah masyarakat atau aliran sesat yang dikejar-kejar hanya karena kita memiliki keyakinan kita sendiri...
Keberpihakan kita dalam subjek konflik agama, sudah dimaklumi , karena kita mengkonsumsi agama sebagai candu yang membutakan kita, bukan yang mencerahkan kita, jika niscaya pencerahan itu akan didapat hanya dari sifat kritis kita terhadap sesuatu, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang sakral sekali pun. Ini merupakan masalah kita dalam kehidupan sehari-hari, hak kita untuk mengemukakan kebebasan berpendapat, kebebasan berpikir dan menjamin keberlangsungan kritisisme kita sebagai manusia berakal di masa sekarang atau di masa yang akan datang, sebagai suatu perjuangan kita untuk bebas berekspresi dan berkreasi tanpa ada unsur trauma dan jera untuk mencoba...kita adalah manusia bebas!
Baik agama maupun musik seharusnya bisa menjadi instrumen umum untuk mengakomodir kebutuhan kita sebagai manusia, bukan sebagai pencabut jiwa seni yang kritis dan progresif dalam mengembangkan kembali khasanah kebudayaan masyarakat global. Maka dapat dipahami jika John Lennon telah memimpikan dunia tanpa agama dan negara dalam lirik "Imagine" nya sebagai suatu mimpi yang 'barangkali' bisa mewujudkan kehidupan manusia yang damai dan sejahtera, karena niscaya, untuk meraih kebahagiaan sesungguhnya tidak perlu ada pamrih apapun.
"All the things in the future are never known from what's happening right now, What I've predicted, the more passive we are, the more they control our life..."
article taken from http://aloneatlast.multiply.com/journal/item/26
RSS Feed (xml)