K O N D O M

1:34 PM
- this post dedicated for su'BAGUS 'wayang' ANTARIANTO di puncak gunung tertinggi yang dingin dan sepi... * doesn't mean i miss you fucker! ')


" ...Kami butuh pembunuh !!" kalimat itu diucapkannya sungguh sungguh. Aku rasa dia tidak sedang bercanda. Sedari tadi dia memang serius dengan semua ucapannya walau aku bahkan tidak sanggup sekadar mempercayai bagaimana dia bisa tiba-tiba duduk di ujung amben tempatku berbaring payah. Penjelasan panjang lebar yang diberikannya terdengar seperti dongeng paling khayal. Otakku masih belum sanggup menampung fenomena yang biasanya kita sebut 'ghaib' itu mendadak menjelma kasat mata. Dan tiba-tiba dia mengatakan butuh pembunuh?

Sudahlah, kalau kamu di sini karena otakku mulai memble membedakan mana yang nyata mana yang halusinansi, sebaiknya kamu lenyap saja. Kayak tadi, sepi!"

Dia tersenyum masam, tak peduli dengan keadaanku yang terhuyung-huyung di ambang batas waras, bahkan lebih.

" Engkaulah yang bisa menyelamatkan manusia dari kepunahan. Maka dari itu aku datang kemari. Maka dari itu dengarlah ceritaku," nada bicaranya benar-benar mendesak. Tidak memberi kesempatan lawan bicaranya untuk sekadar melirik celah menghindar. Tidak sopan!

"Kamu boleh tidak percaya. Boleh menganggap semua ini halusinasi yang disebabkan demammu yang menyedihkan itu. Tapi dengarlah dulu ceritaku sebelum kamu mengusirku. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan umat manusia..."

Oke.., oke! Aku tidak peduli lagi apakah kamu nyata atau bukan. Siapa pula yang peduli padaku sekarang? [ . . . ]


- - -
Date: Fri, 20 May 2005 12:38:53 -0700 (PDT)
From: dr_hate_cure@yahoo.com
Subject: one of mine
To: jogjasweet@yahoo.com
- - -
Date: Wed, 25 May 2005 16:37:10 -0700 (PDT)
From: jogjasweet@yahoo.com
Subject: Fwd: one of mine
To: herrick_de_grunge@yahoo.com

Read On 0 comments

lari kutak, berpaling kutak, tatap ku

12:50 PM
disini masih ku berkutat dalam lumpur hisap
hujan tak juga mereda dingin makin meresap
kata terucap bibir tertutup rapat hatiku sesak
ingin kuberontak kakiku terikat
tali kekang yang kutempa dengan peluh keringat
senja telah surut jingga tak lagi terlarut
gelap seketika hati dan jiwa kalut
entah dapat kuterjang derasnya samskara
adakah lentera yang kan jelaskan semua
dan ledakkan
rantai pengikatku
anjing penjagaku
tempurung yang kerdilkan loncatan pemikiranku


chup!

Read On 0 comments

wortel, telur dan secangkir kopi...

6:31 PM


Kamu tidak akan pernah memandang secangkir kopi dengan cara sama lagi. Seorang pemuda pergi bertemu ibunya dan menceritakan tentang hidupnya yang begitu keras baginya.
Dia tidak mengetahui bagaimana dia ingin berhasil dan ingin juga menyerah. Dia lelah perkelahian dan semuannya. Ibunya membawanya ke dapur. Di dapur ada 3 periuk dengan air dan ditempatkan di atas kompor dengan api yang besar.
Dengan cepat periuk mendidih.
Di periuk yang pertama dia meletakkan wortel, Periuk yg kedua dia menempatkan telur, dan di periuk terakhir dia menempatkan biji kopi tumbuk. Dia membiarkan mereka diatas kompor dan mendidihkannya . sekitar dua puluh menit dia mematikan kompor.
Dia mengangkat wortel dan menempatkannya di mangkuk.
Dia mengeluarkan telur dan menempatkannya di mangkuk.
Lalu dia menyendok kopi ke luar dan menempatkannya di mangkuk.
Dia mulai berkata kepada anak laki2nya, tanyanya, "Nak apa yg kamu lihat ?
Wortel, telur, dan coffee," dia menjawab.
Ibunya membawanya lebih dekat dan menanyakan bagaimana rasanya wortel. Dia memakannya dan menyadari bahwa mereka halus.
Ibunya kemudian meminta anak laki2nya mengambil telur dan memakannya.
Sesudah mengupas kulit telur, dia mengatakan bahwa telur rebus keras.
Akhirnya, tanya ibu ke anak laki2nya untuk meminum kopi.
Anak laki2 itu tersenyum dan dia merasakan aroma kopinya.
Anak laki2 itu kemudian bertanya, "apa artinya semua ini, bu?"
Ibunya menerangkan bahwa masing-masing benda ini Sama-sama dididihkan di air panas akan tetapi yg terjadi tiap mangkuk berbeda. Wortel kuat, sukar, dan tak mengalah.
Tetapi, sesudah ditundukkan ke air mendidih air, lunak dan menjadi lemah.
Telur mudah pecah, tetapi sesudah diletakkan pada air yg mendidih dalamnya menjadi mengeras.
biji kopi unik, tetapi Sesudah diletakkan pada air mendidih, mereka sudah berganti air.
"Yang mana pilihan kamu ?" tanyanya pada anak laki2nya.
"ketika hal itu ditanyakan ke kalian, bagaimana kalian menjawab?
Apakah anda memilih wortel, telur atau biji kopi?"

Think this: saya?
Apakah saya adalah wortel bahwa kelihatan kuat, tetapi dengan rasa sakit dan kemalangan apakah saya
menjadi lesu dan menjadi halus dan kehilangan kekuatan saya?
Apakah saya adalah telur itu mulai dengan jantung lunak, tetapi berubah dengan adanya panas?
Apakah saya minum minuman keras berubah-ubah, tetapi setelah kematian, atau perceraian, kesukaran keuangan atau suatu permasalahan lain, apakah saya menjadi mengeras dan kaku?
tetapi di sisi dalam apakah saya adalah jiwa kaku dan jantung mengeras?
Atau apakah saya seperti biji kopi?
keras sebelum berganti air panas, situasi yang sangat membawa rasa sakit.
Waktu air jadi panas, melepaskan keharuman dan membubui.
Jika anda seperti kopi, waktu hal yang anda alami adalah yg paling jelek , anda jadi lebih baik dan mengubah situasi disekitar anda.
Kalau jam adalah yang paling gelap dan pertandingan ialah yang paling hebat, apakah anda mengangkat sendiri sampai derajat lain?
Bagaimana anda mengurus kemalangan?
Apakah anda adalah wortel, telur atau biji kopi?
Kami mempunyai pilihan :)

Jember, 20 februari 2005
The F@#%ng Days
- creep - 1:12 AM
posted by: ucheel radiohead

Read On 0 comments

Jejak Hitam dari tapak Nestapa

6:17 AM




Seperti hitamnya bayangan dibelakangku ketika kutatapkan wajah ini tepat di hadapan-Mu jangan Kau kira tak pantas bagiku untuk menggugatMu
semua memang tentang mengapa, mengapa, mengapa
dan selalu saja tentang mengapa
entah di pagi buta atau di silaunya dhuha, akan selalu ada tanya itu


ketelanjanganku kuanggap sangat pantas
untuk mencuatkan tanya itu padaMu, hanya padaMu
ketelanjanganku membuatku mampu mengurai jeratan-jeratan di leherku
hingga aku sanggup tengadahkan mukaku tepat di wajah-Mu
ketelanjanganku sedikitpun tak membuatku malu akan diriMu
karena ketelanjangan inilah yang membuatku ada dalam diriMu,
dan meleburkanku dalam diriMu


dan pusaran hitam yang semakin membesar di atas kepalaku ini cukup untuk mengatakan bahwa ketelanjangankulah yang akan selalu membarakan apiMu
dalam hatiku



daB!

Read On 0 comments

Kucit Menggugat

1:02 AM
sebuah cerpen mengelitik

Malam masih memeluk bumi Nusa Dua, sebuah desa kecil yang asri dan indah di Bali Selatan. Temaram lampu2 hotel dan perumahan penduduk menyorot lembut ke langit, sedikit mengurangi kegelapan sang malam yang tugasnya bebarapa jam lagi akan selesai. Semua penduduk masih tertidur, hanya beberapa pekerja dunia pariwisata yang masih tampak mempersiapkan hidangan pagi.

Dalam lambaian angin yang sejuk, seekor babi berteriak2 menangis. Air matanya deras mengalir seperti sungai Ayung di musim hujan. Dia berlari kesana kemari kebingungan, dingin malam tak dihiraukannya. Dia terus berlari, berlari dan berlari sekencang2nya. Sakit bekas ikatan di kakinya tak dirasakannya lagi. Dia hanya ingin hidup, ingin lepas dari kematian yang ditakdirkan untuknya, bukan oleh Tuhan tapi oleh manusia.

Brukkkkk....
Tiba2 matanya berkunang2, dia menabrak sesuatu di depannya. Ah gara2 Kucit menangis, matanya jadi agak kabur. Kucit pingsan, tak berapa lama kemudian dia mulai tersadar, hah hah......
"Jangan, jangan, jangan, aku jangan dibunuh. Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin hidup."
"Heh Kucit, kenapa kamu malam2 keluyuran sejauh ini. Berbahaya tahu, kamu masih kecil". Perlahan2 kucit mulai agak jelas melihat, semula hanya bayangan gelap
keputih2an di depan matanya, tapi kemudian jelas bahwa yang ada di depannya adalah seekor sapi.
" Huh..., kukira siapa. Paman Sapi.., tolonglah aku. Please..suerrr...aku saat ini butuh bantuanmu Paman. Hidupku sedang diujung tanduk Paman Sapi. Ini emergency..."
"Sssttt, kamu berisik amat. Nangis ya nangis, tapi segitu banget. Kupingku sakit tahu"
" Aku takut Paman Sapi. Mereka mau menyembelihku, buat acara Galungan besok. Lihat nih, buluku berdiri semua."
Kucit menangis lagi, sekeras2nya. Dia berguling2 ke kanan dan ke kiri.
" Heh...babi tak tahu diri. Diaaammmm....!!!!!"
Sapi membentak Kucit. Kucit jadi terdiam......
" Toch manusia gak ada yang denger tangisanku kan Paman Sapi. Dimensi
suara mereka kan lain"
" Iya, tapi kupingku budeg tahu. Aku kan bisa denger suaramu."
Sapi mengelus kepala babi kecil itu dengan lembut, membuat Kucit sedikit agak tenang. " Ayo... ikut Paman"
Kucit menurut saja, menuruni bukit kecil yang penuh dengan perdu2. Tanah kapur yang kering memudahkan perjalanan mereka menuruni bukit, langkah kucit yang kecil tak sebanding dengan langkah sapi, membuat Kucit harus sedikit agak berlari untuk mengejar ketertinggalannya. Akhirnya mereka hampir sampai di kaki bukit, isyarat sapi mengatakan untuk memperpelan langkah. Setelah melewati barisan pohon2 bambu
kuning, sampailah mereka di kompleks Puja Mandala. Kucit sudah ragu2 menjejakkan langkahnya di pelataran Puja Mandala. Tetapi karena Sapi dengan tenang melanjutkan langkahnya, mau tak mau Kucit juga mengikutinya.

Rasanya tak ingin lagi dia melihat manusia, trauma melihat kematian ibunya yang mengenaskan tadi malam masih sangat membekas dalam ingatannya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Bersiap2 atas segala kemungkinan. Hhmmm sebelah kanan jalan raya, sepi dan lengang, tak ada orang lalu lalang. Sebelah kiri yang harus diwaspadai pikir Kucit. Hhhmmmm...Masjid Agung Ibnu Batutah, hah tak ada tanda2 orang bangun
juga. Kucit masih juga berjalan pelan di belakang sapi. Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, wah malah gelap gulita. Masih aman pikir Kucit. Dia terus saja berjalan mengikuti sapi, dan tetap dalam keadaan siap siaga kabur bila ada hal2 mencurigakan. Buddhaguna Vihara, hhmmm Kucit melihat puncaknya yang kekuning2an. Tidak ada orangnya juga, hanya tampak puncaknya saja yang kadang2 mengkilat diterpa temaram lampu. Bangunan selanjutnya cukup gelap, tidak ada lampu yang menerangi.

Samar2 di ujung Kucit melihat ada papan nama. Gereja Protestan Bali, oohhh jadi ini gereja juga. Tiba2 Sapi berhenti, melihat ke kiri sejenak, dan akhirnya melangkahkan kaki. Mereka memasuki bangunan putih berbentuk seperti candi. Sapi celingukan, seperti sedang mencari sesuatu. Akhirnya berjalan menaiki tangga yang tidak terlalu banyak itu. Kucit harus berjuang sedikit ekstra untuk menaiki tangga2 itu, maklum dia memang masih kecil. Setelah sampai di atas, sapi berhenti dan menunggu Kucit yang agak ketinggalan. Setelah Kucit sampai di atas, Sapi mengendus2 kepala Kucit, membuat Kucit agak sedikit lega.

Langit Nusa Dua diliputi sedikit mendung kehitam2an, berarak dari timur dan bercinta satu sama lain. Angkasa sedang menghidangkan bulan untuk dinikmati makhluk bumi, memancarkan sinar lembut dan mengajak air laut bergoyang.

" Paman Sapi, kenapa kau mengajakku ke sini...?"
" Karena penderitaanmu bermula dari sini Kucit, dari ketidak mengertian manusia atas esensi hidup. Karena penderitaanmu juga preseden buruk atas ajaran2 agama yang memperbolehkan pembunuhan atas bangsa binatang."
" Tapi tidak semua agama sejahat itu Paman, ada beberapa ajaran agama yang melindungi binatang, dan menganggap beberapa binatang sebagai makhluk suci. Paman sendiri dianggap sebagai makhluk suci oleh orang Hindu, kebalikan dari aku yang dianggap sebagai santapan. Kurang ajar benar mereka itu, manusia terkutuk"
"Menganggap binatang sebagai makhluk suci juga tidak menyelesaikan masalah, di dunia ini tidak ada yang suci Kucit. Hanya Tuhanlah satu2nya yang suci. Sama seperti orang Islam yang tidak pernah memakan babi sepertimu, landasan mereka bukanlah karena kamu memang makhluk hidup yang harus dihormati hak2mu sebagai makhluk hidup, tapi karena mereka jijik melihat kamu, menganggap kamu memiliki penyakit, dan kalau perlu kamu harus dimusnahkan dari muka bumi"
" Ah Paman, biarlah mereka menganggapku begitu, yang penting banyak saudara2ku terselamatkan karena ajaran itu."
" Kau jangan egois babi kecil, dari jenismu itu mungkin menguntungkan, tapi dari jenisku ajaran Muhammad sangatlah barbar, kau bayangkan berapa juta saja saudara2ku dibunuh tiap tahunnya sebagai binatang korban. Bukannya dilarang, tapi malah dianjurkan" Kucit terdiam,airmatanya meleleh....., hatinya geram pertanda amarah, spontan keluar suaranya grok grok grok dari hidungnya seperti suara orang ngorok " Dasar babi cengeng, kenapa kau menangis lagi...?"

" Aku teringat ibuku Paman Sapi, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ibuku menjerit2 menyebut namaku saat lehernya diterpa pisau tajam dan mengucurkan darah begitu derasnya. Inikah bukti bahwa manusia memang ciptaan Tuhan yang bermartabat, kejam Paman...kejam...mereka kejam...!!!!!!"
"Sudahlah..., itu sudah terjadi. Kematian bukanlah akhir kehidupan Kucit. Kematian adalah awal kehidupan baru. Suatu saat kau akan bertemu ibumu lagi. Kau masih punya bapak..?"
" Aku tidak pernah tahu siapa bapakku Paman. Aku lahir dari inseminasi buatan" Sapi jengah..., timbul rasa ibanya yang dalam terhadap babi kecil disampingnya itu. Diendusnya kepala Kucit, sambil dihapusnya airmata yang masih meleleh di pipi.
"Kau lihat bintang2 di langit itu...?, mereka juga lahir tanpa Bapak, bahkan tanpa Ibu. Setiap hari lahir ribuan bintang2 baru, menyemarakkan pestasemesta. Walaupun tanpa Bapak Ibu, tapi mereka tegar, selalu menawarkan sinarnya untuk siapapun yang membutuhkan. Jika saja mereka agak lebih dekat dengan kita, mereka akan seterang matahari, bahkan lebih terang lagi. Kaupun harus selalu begitu Kucit, kehadiranmu harus selalu menjadi penerang, berilah makna2 baru kepada lingkunganmu, junjung tinggi persamaan hak untuk semua jenis makhluk hidup."

"Paman, aku harus balas dendam. Kematian ibu harus dituntaskan, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Siapakah manusia yang merasa berhak membunuh sesama binatang, mentang2 mereka dikaruniai otak yang lebih baik dari kita. Apa gunanya otak itu kalau perilakunya juga sama dengan binatang2 yang lain, bahkan lebih parah. Perbuatan mereka tak bisa dibiarkan begitu saja Paman"
" Kau kira kau bisa melawan mereka, gunakan otakmu tolol...!!!!!,
superioritas mereka jauh di atas kita, melawan mereka bukan dengan kekuatan
nafsu dan kekuatan jasmani, tetapi kekuatan otak"
"Kekuatan otak, Paman jangan bergurau. Mereka lebih berotak daripada
kita Paman. Apakah Paman belum tahu, di koran2 mereka, di internet, di tv, sudah berjejal bukti2 kalau saja manusia tidak mendomestikasi dan memakan binatang lain, akan banyak nyawa manusia lain yang terselamatkan. Di Amerika Serikat saja Paman, jika saja penduduknya mau mengurangi konsumsi daging 10% saja, maka makanan berupa biji2an yang diberikan kepada binatang yang menghasilkan daging, akan cukup untuk memberi makan 60 juta manusia2 kelaparan tiap tahunnya. Tetapi mereka menutup mata atas statistik2 seperti itu Paman. Kurang bukti apa lagi, mereka sudah tahu bahwa binatang juga berbahasa, walaupun karena kebodohan mereka sendiri, mereka tidak mengerti bahasa itu. Aku bisa melihat jin, melihat setan, melihat makhluk2 aneh di bumi ini Paman, bahkan aku bisa mengetahui kapan ada bencana, tapi aku tidak pernah sombong. Tetap manusia Paman, dengan sombongnya mereka mencampakkan bukti2 itu di got sampah" "Ada benarnya juga kamu anak ingusan, kebenaran itu tak akan berarti apa2 jika diingkari dan tidak dilaksanakan. Yah, tapi begitulah. Tuhan saja yang begitu jahatnya membiarkan kita didomestikasi sedemikian rupa tanpa ada pembelaan apapun dari-Nya" " Menyalahkan Tuhan juga tidak membawa hasil baik Paman. Bukankah Tuhan sebenarnya sudah lepas tangan sejak Ledakan Besar atau bahasa kerennya Big Bang itu. Sejak itu, semesta dibiarkan bergerak, bergoyang, berkembang semaunya sendiri. Jika kita pada kondisiyang sekarang ini, evolusi kita saja yang kebetulan bernasib jelek. Tapi kita tidak boleh menyerah pada nasib Paman, kita harus memberontak. Kita harus menuntut hak2 kita, kita tidak boleh tinggal diam di saat manusia dengan wajah tanpa dosa membantai 9 milyar sesama binatang tiap tahunnya"
"Aku juga tidak mengerti Kucit, dengan kepandaian mereka, sudah semestinya mereka bisa menciptakan daging2 sintetis yang tak kalah enaknya dengan daging2 kita ini. Mungkin dengan mendomestikasi kita, mereka masih tetap berharap melestarikan status quo mereka sebagai penguasa alam, bukannya sebagai bagian dari alam."

"Hah Paman ini, teologi harapannya terus yang dikemukakan. Akuilah Paman, the truth is sometimes hurt. Memang menyakitkan untuk mengakui bahwa kita ini di bumi, sesama binatang saling membunuh satu sama lain. Piramida Kehidupan katanya. Tapi justru itulah tantangannya Paman Sapi, kita harus melawan takdir kuno itu. Semua binatang harus bisa hidup hanya dari tumbuh2an. Kau tidak lihat buktinya Paman, Si Meong, kucing liar kudisan di bukit Kampial sana. Seharusnya dia Carnivore, pemakan daging. Tapi toch kalau terpaksa dia bisa makan nasi, dan nyatanya hidup sampai sekarang. Kalau masalah dia kudisan, lha itu salahnya sendiri, wong gak pernah mandi" Sapi tertawa terbahak2..., sampai perutnya kembang kempis, Kucit ikut meringis. Suasana sudah menjadi begitu cair, Kucit sudah tenang sekarang. Sapi pun kelihatannya malah sekarang harus mengakui kehebatan retorika babi kecil itu. Tiba tiba terdengar suara bedug bertalu2...
...Dug ...dug ...dug ...dugdugdugdug ....dug ...dug ...dug.
..Kucit kaget setengah mati, dia langsung berdiri dan bersiap2 lari sekecang2nya. Sapi langsung menghadangnya.....

" Tenang..tenang...itu suara bedug dari Masjid Ibnu Batutah, mereka mau sholat Subuh. Sebelum terang ayo ikut Paman ke tempat yang aman, kamu pasti akan selamat di sana, tapi dengan syarat, jangan sampai kamu keluar siang. Janji...???!!!!"
" Ya deh aku janji, yang penting aku selamat Paman." Mereka berjalan keluar dari Pura Jagatnata, beriringan seperti bapak dan anak, sementara langit Nusa Dua sudah mulai berwarna semburat kekuningan, tanda mentari akan sebentar lagi menyapa makhluk bumi.

NB: 1. Kucit berarti Babi Kecil dalam Bahasa Bali
2. Kompleks Puja Mandala adalah kompleks 5 tempat peribadatan
di bukit Kampial Nusa Dua.
.....................................................................................
~ by Firman Pribadi
I am what I am today because of the choices I made yesterday.

original posted from www.rakyat.cjb.net

Read On 0 comments